SEANDAINYA … “AKU BUKAN LAGI SEORANG MARTIR”

Gereja Katolik dari dulu hingga sekarang senantiasa dilumuri oleh darah – darah manusia yang membela iman Kekatolikan. Darah mereka menjadi kesucian serta kesuburan bagi perkembangan iman Gereja Katolik dimana – mana. Mereka itu disebut Martir Gereja dan kini telah menikmati apa yang Kristus janjikan. Para Martir mempertahankan Iman karena meyakini Yesus Kristus adalah satu – satunya jalan menuju Keselamatan dan juga mendirikan GerejaNya (Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik) sebagai sarana keselamatan bagi umat manusia. Tiada gentar mereka dihadapan para pencabut nyawa, tiada takut mereka terhadap benda – benda siksaan, yang ada dalam pikiran mereka adalah kesetiaan terhadap sang Mempelai Maha Kudus, Yesus Kristus.

Menjadi polemik sepanjang perziarahan Gereja Katolik  bahwa paham indifferentisme (menganggap semua agama sama saja) menjiwai beberapa bahkan sebagian putera – puteri nya. Hal ini sungguh bertentangan dengan ajaran Kristus sendiri yang menyatakan bahwa Ia adalah jalan – kebenaran – hidup, tiada satu pun dapat bertemu Bapa tanpa melalui Kristus, dan tiada satupun yang layak bagi Kristus jika cintanya lebih besar kepada duniawi serta yang keluar dari pokok anggur (Gereja Katolik) tiada keselamatan.
Seandainya jikalau Kristus hanya salah satu jalan menuju kerumah Bapa, seandainya semua agama sama saja. Bukankah para Martir mati dengan sia – sia? Bahkan Kristus sendiri mati dengan sia – sia?!.
Maka Marilah kita baca lebih lanjut, bagaimana seandainya jika para martir (sebelum martir) menyangkal imannya? mungkin banyak hal duniawi yang dapat mereka nikmati (kekayaan, kekuasaan, popularitas, dll)
Jika seandainya mereka berkata …………
St. Berardus, dkk
Seandainya saya dan bersama rekan sahabat Fransiskus percaya bahwa Yesus hanya salah satu jalan keselamatan, mungkin saya dan rekan – rekan tidak akan mati dalam nama Tuhan.
St. Sebastianus
Seandainya saya mematuhi permintaan Kaisar Diocletian untuk mengikari iman dan tidak memerintahkan untuk menghentikan penganiayaan umat Kristen, mungkin saya tidak pernah di bunuh dengan cara di panah dan didera.
St. Apolonia
Seandainya saya tidak menjawab pertanyaan hakim dengan jawaban “Saya seorang Kristen dan saya mengasihi serta melayani Tuhan yang benar” dan mematuhi permintaan rakyat Alexandria untuk mengikari iman, saya tidak mungkin mati dengan cara dibakar dalam kobaran api serta sebelumnya gigiku dicabut.
St. Eulogius dari Spanyol
Seandainya saya tidak menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dihadapan pengadilan yang menginginkanku mengikari iman, saya tidak mungkin dijatuhi hukuman mati.
B. Antonius Neyrot
Sandainya saya menerima tawaran dari penguasa yang menginginkan saya mengikari iman dan melepaskan jubah dominikan, saya tidak mungkin mati dilempari batu.
St. Pankrasius
Seandainya saya menyangkal iman, saya tidak mungkin mati dengan cara dipancung. Mungkin saya masih dapat menikmati dunia ini mengingat usiaku masih sangat muda.
St. Yustinus
Seandainya saya mengikari iman saya dan menjawab “TIDAK YAKIN” atas pertanyaan hakim: “Apakah kamu pikir dengan mati, maka kamu akan masuk surga dan memperoleh ganjaranmu?” saya bukan seorang Kristen lagi.
St. Pelagius
Seandainya saya mengikari iman dan menjadi muslim dan tidak  berkata “Aku seorang Kristiani sejak dahulu. Aku seorang Kristiani sekarang. Aku akan tetap menjadi seorang Kristiani.”  Saya tidak akan mati sebagai seorang Kristen, namun bagi saya hal yang di tawarkan oleh mereka tiada berarti sama sekali.
St. Kosmas & St. Damianus
Kami seorang dokter. Seandainya kami menyangkal iman, kami tidak mungkin dianiaya pada masa Kaisar Diocletian
St. Sesilia
Seandainya saya mempersembahkan korban bakaran kepada berhala – berhala, saya tidak mungkin mati dengan cara di penggal.
St. Katarina dari Alexandria
Seandainya saya menyembah berhala empunya Kaisar Maxentius saya pasti menerima mahkota ratu yang ditawarkannya. Namun saya mati dengan cara digiling roda berduri dan lalu dipenggal karena iman.
St. Bibiana
Seandainya saya memenuhi permintaan Hakim untuk menjadi jahat dan tidak perlu mementingkan arti kesucian diri, saya tidak mungkin mati dengan cara dicambuk timah.
 —
Artikel ini sama sekali tidak mendidik kita menjadi fanatisme sempit dan menyerang keyakinan saudara/i kita, dan bahkan tidak juga menghalalkan segala cara untuk membawa mereka kepada Kristus, melainkan terlebih pandanglah Salib Kristus, Ia telah menebusmu dan meyakinkanmu bahwa Ia adalah satu – satunya jalan menuju Bapa, tiada satupun yang terpisah darinya beroleh keselamatan. Oleh karena itu, bawalah sukacita itu dan wartakanlah dengan perkataan dan perbuatan, agar mereka melihatmu dan berkata: “Inilah Iman Katolik!”
referensi orang Kudus: Yesaya.indocell.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s