5 HAL UMUM YANG TIDAK MEMPERKENANKAN SESEORANG MENERIMA EKARISTI

Ekaristi merupakan puncak iman Kristiani. Dengan menerima sakramen ekaristi, setiap jiwa memperoleh kekuatan dalam mengemban tugasnya di dunia ini sebagai seorang peziarah yang tujuan akhirnya adalah menghadap Allah Bapa surgawi. Dalam sakramen ekaristi itu sendiri, Kristus sungguh – sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur. Oleh karena itu, seorang yang akan menyambut tubuh dan darah Kristus perlu mempersiapkan diri untuk menerimaNya dengan layak dan pantas. Ada beberapa  hal yang membuat seseorang tidak diperkenankan menerima Sakramen ekaristi, apa saja?

1. Seorang yang tidak dibaptis

Sakramen baptis merupakan sakramen yang mutlak untuk diterima terlebih dahulu sebelum menerima sakramen – sakramen lainnya. Sakramen baptis adalah tanda dan rahmat Allah yang mendatangkan penghapusan dosa baik dosa asal maupun dosa pribadi. Seseorang yang secara suka rela  dibaptis dinyatakan sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Maka, setiap personal yang belum terbaptis tidak diperkenankan untuk menerima sakramen ekaristi karena dua hal utama: dalam keadaan dosa dan atau belum percaya kepada Kristus.

2. Terbaptis namun tidak berada dalam persekutuan Gereja Katolik.

Meskipun seseorang sudah terbaptis, namun ada hal lain yang menghalangi seseorang untuk menerima sakramen ekaristi di Gereja Katolik, tak lain adalah yang bersangkutan berada diluar persekutuan Gereja Katolik ( anggota persekutuan gerejawi Protestan, Gereja Orthodoks, etc). Walaupun seseorang menyatakan dirinya percaya penuh apa yang diyakini oleh Gereja Katolik mengenai sakramen yang luhur ini, namun seseorang ( dalam keadaan wajar) tetap tidak diperkenankan menerima ekaristi suci, karena bagi Gereja Katolik seseorang yang menerima ekaristi juga menyatakan kesetiaannya kepada semua iman yang sudah dipelihara dan dipertahankan dari zaman para Rasul.

3. Dalam keadaan dosa berat

Seorang dalam keadaan dosa berat dilarang menerima Ekaristi! mengapa? bukankah Ekaristi mendatangkan pengampunan? betul!, namun hanya dosa ringan. Dosa berat tidak diampuni kecuali melalui sakramen tobat. Sesungguhnya ekaristi merupakan sakramen bagi mereka, yang HIDUP dalam persekutuan penuh dengan Gereja (KGK art.1395). Seorang yang melakukan dosa berat secara suka rela menyatakan dirinya terpisah dari cinta kasih Allah. Dengan demikian seseorang yang tanpa penyesalan penuh di akhir hidupnya berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk selama lamanya (neraka) (KGK art.1033). Maka jiwa yang “mati” karena dosa berat perlu di sembuhkan melalui sakramen tobat sebelum menerima sakramen ekaristi.

4. Seseorang yang dieksomunikasi

Hukum Gereja terberat bagi seseorang adalah ekskomunikasi (KGK art. 1463). Seseorang tidak diperkenankan menerima / melayani sakramen – sakramen Gereja dan pelaksanaan kegiatan tertentu dari Gereja. Seorang mendapat hukuman ekskomunikasi karena melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran yang sangat serius, contohnya Abortus (KGK art. 2272), murtad dari iman, heretik dan skismatik (Kan. 1364 $ 1), membuang hosti suci, membawa maupun menyimpan untuk tujuan sakrilegi (Kan. 1367), tindak kekerasan terhadap Paus (Kan. 1370 $ 1), pentahbisan Uskup oleh Uskup tanpa mandat dari kepausan (Kan. 1382), pembocoran rahasia (pengakuan dosa) baik oleh pelayan sakramen maupun penterjemah ( Kan. 1388 $ 1 & 2), imam  memberikan absolusi kepada rekannya yang melanggar dosa perintah ke enam ( perzinahan) dalam keadaan wajar (Kan. 1378 $ 1)  dan kasus berat lainnya yang menurut Paus atau Uskup lokal perlu menjatuhkan hukuman ekskomunikasi kepada seseorang, contoh Paus Fransiskus menjatuhkan hukuman ekskomunikasi kepada seorang imam dari keuskupan Agung Melbourne karena mendukung tahbisan wanita dan pernikahan gay. Oleh karena itu, Gereja sangat melarang keras untuk memberikan pelayanan suci, termasuk sakramen ekaristi kepada seorang yang sudah diekskomunikasi (Kan. 915).

5. Terlambat Misa secara sengaja dan sukarela

Perayaan Ekaristi (Misa Kudus) terdiri dari liturgi pembuka, liturgi sabda dan liturgi ekaristi. Seseorang tidak dapat menerima sakramen ekaristi hanya dengan megikuti Liturgi sabda dan liturgi ekaristi atau datang pada saat liturgi ekaristi. Misa merupakan kesatuan penuh yang harus diikuti, karena dari pembukaan kita di ajak  untuk mendalami peristiwa yang akan kita rayakan, dan dengan liturgi sabda kita dibawa kepada peristiwa atau makna dari perayaan tersebut serta dengan liturgi ekaristi kita ajak untuk menjadi seperti Yesus dan menerima Yesus dalam diri kita.

Mari kita renungi sejenak, apakah kita melakukan atau melanggar beberapa hal tersebut?

KHK dan KGK @imankatolik.or.id

69 thoughts on “5 HAL UMUM YANG TIDAK MEMPERKENANKAN SESEORANG MENERIMA EKARISTI

  1. Klo menurut saya menerima atau tidak tergantung hati..
    Klo merasa pantas kenapa tidak..
    Krn saya yakin Tuhan baik dan tidak membeda bedakan.

    Suka

    • Ya, menerima Tubuh Tuhan harus disposisi hati yang benar dan pantas . Untuk kepantasan itu perlu menerima sakramen tobat jika berdosa berat. Krn menerima Tubuh dan darah Tuhan tanpa persiapan mendatangkan dosa.

      Tuhan tidak membeda bedakan, tetapi Tuhan mengajak kita untuk senantiasa memperbaharui hidup kita dgn tobat dan ekaristi

      Suka

    • Ketaatan dalam menjalankan semua liturgi dari awal sampai akhir merupakan suatu penghormatan ke pada Allah , oleh karenanya layak mendapatkan ekaristi. Begitu pula sebaliknya. Bukan hanya masalah suasana hati. Ingat kita adalah hamba Allah, berlakulah layaknya hamba saat kita menghormati Allah.

      Suka

    • Mengimani ajaran Katolik, berarti mengimani bahwa dasarnya adalah Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Itulah yang menjadi panduan hidup kita sebagai umat Katolik.
      Ada perbedaan yang mendasar antara “merasa pantas” dan “sudah pantas”.

      Suka

    • Sdr. Claus, silahkan baca 1 Kor 11:27-29.

      Anda bilang menerima atau tidak tergantung hati. Sekarang Anda akan menerima tamu seseorang yang spesial di rumah Anda, kemudian Anda membiarkan rumah Anda berantakan luar biasa sambil berkata “Saya menerima atau tidak tergantung hati, kalau saya merasa pantas kenapa tidak”, mungkin tamu spesial Anda itu sudah langsung keluar dari rumah Anda dengan penuh kejijikan.

      Suka

    • Sdr Claus…
      Hati adalah dasar kelayakan untuk menerima Tuhan. Tapi harus tahu juga konteksnya.
      1. Hati semua orang beriman yang murni pantas untuk terima Tuhan. Dalam sudut pandang menerima sakramen, hati murni seorang yang tidak dibaptis dalam gereja Katolik tidak layak untuk terima sakramen. Misalnya saudara beriman yang beragama lain. Mereka punya hati yang tulus tapi karena bukan beragama Katolik karena pembaptisab maka yang bersangkutan tidak layak.
      2. Datang terlambat pada waktu misa adalah bentuk dari hati yang tidak siap menerima Tuhan. Benar bahwa Tuhan akan mengampuni dosa dan salah tapi pengampunan punya konsekuensi logis dan tuntutan kesadaran diri untuk pertobatan. Dengan terlambat yang dibuat-buat sama saja dengan mengaburkan hati. Misalnya, sudah tahu jam 7 misa. Datangnya jam setengah 7. Sikap ini sudah menunjukkan kelemahan hati yang tulus. Hati yang terarah kepada Tuhan perlu wujud nyata dan konkret.

      Suka

    • Kalau melanggar salah satu dari ketentuan tersebut berarti tidak pantas menerima Komuni. Jika dilanggar itu sama halnya dengan menghina Tubuh dan Darah Kristus. Berarti bahwa bukan rahmat yang diperoleh melainkan menambah dosa berat.

      Suka

    • Beriman itu ukurannya bukan “MENURUT SAYA”…. Menjadi Katholik itu bukan “aku suka ini, tapi aku ngga suka itu.”

      Apa kata Gereja, itulah yang menjadi ukuran….entah suka atau tidak.
      Istilah KATHOLIK berasal dari kata dalam bahasa Yunani KATHOLOU yang berarti UNIVERSAL (Versi Tunggal)…. Katholik itu UTUH, TAK TERPECAH. Jadi, menjadi seorang “yang Katholik” artinya harus bersikap Satu dengan Gereja dan tak menjadikan SELERA atau OPINI menjadi ukuran dan standar.

      Suka

  2. Ping-balik: Spe Salvi Facti Sumus

  3. Ping-balik: 5 HAL UMUM YANG PERLU DIPERSIAPKAN SEBELUM MENGIKUTI MISA KUDUS | Spe Salvi Facti Sumus

  4. Ping-balik: KOMUNI SPIRITUAL | Spe Salvi Facti Sumus

  5. Kenapa kristen harus terpecah seperti itu sih? Bukannya malah memudahkan manusia untuk menuju pertobatn dan pengampunan, tp nda boleh baginilah, nda boleh begitulah. Ribet banget…

    Suka

    • sdr Ogu yang baik. dimana letak kesulitan yang membuat orang tidak bisa berjuang atas pertobatan?
      pertobatan dan pengampunan mendatangkan keselamatan, namun apa yang dikatakan Yesus soal keselamatan?

      Matius 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

      maksud dr kalimat ” tp nda boleh baginilah, nda boleh begitulah. Ribet banget…” bagaimana?
      jika soal point2 bagi yang tidak diperkenankan menerima komuni, maka sesungguhnya itu tujuan untuk menyadari posisi personal akan dirinya dengan Tuhan (Ekaristi). Dengan keadaan dosa berat ataupun terkekskomunikasi, sesungguhnya orang tsb SECARA sukarela meninggalkan kasih Allah. Jika sudah meninggalkan kasih Allah, masih pantaskah menerima ekaristi Tuhan? Oleh karena itu, menyambut Tubuh dan darah Kristus harus disposisi yang baik (berahmat; tidak dalam keadaan dosa berat; terikat hukum ekskomunikasi)

      Suka

    • Sdr. Ogu, Kekristenan terpecah adalah karna karya buah Iblis yang ingin menyesatkan umat Allah dari Jalan Keselamatan. Iblis tentu menyediakan yang enak-enak, yang instan, tidak perlu ribet segala macam. Tapi nanti ujung-ujungnya maut. Mau?

      Bertobat itu memang ribet, tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Yesus sendiri bilang bahwa mereka yang akan ikut Dia bukan akan mendapat kesenangan-kesenangan duniawi, namun harus MENYANGKAL DIRI dan MEMANGGUL SALIB bersama Kristus (Mat 16:24). Tapi nanti apa yang akan Anda dapatkan? Kebahagiaan surgawi di Surga. Nah sekarang pilih mau yang mana.

      Orang tua Anda di masa kecil juga melakukan hal yang sama bukan? Ngatur ini itu, gak bolehin ini itu, dsb. Tapi mereka melakukan itu bukan karena mereka benci Anda, tapi mau Anda selamat dari kecelakaan-kecelakaan kecil sehingga Anda bisa tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dalam banyak hal.

      Suka

  6. Sangat memberikan informasi yg baik… terima kasih sebelmnya… tpi ada hal yg mngganjal buat sya di poin 3… apa perbedaan dosa berat dan dosa ringan?? Dosa ya dosa. Dan kdua sya mau tanya poin 5 gmana kalau misalnya kita terlambat secara tdk tidak sengaja? Bukan so tau tapi menurut sya tergantung niat kita sja. Sungguh2 atau tdk?

    Suka

    • Terima kasih sdr. Raynal nimbrung disini 🙂

      Mengenai perbedaan dosa berat dan ringan.
      Seseorang melakukan dosa berat bilamana secara serentak terdapat unsur-unsur: hal berat, pengetahuan penuh, dan persetujuan bebas. Dosa ini merusak
      cinta kasih dalam diri kita, kita kehilangan rahmat pengudusan, dan jika tidak menyesal akan membawa kita kepada kematian abadi neraka. Dosa ini dapat diampuni dengan cara biasa melalui Sakramen Pembaptisan dan Tobat atau Rekonsiliasi.

      Seseorang melakukan dosa ringan yang berbeda secara esensial dengan dosa unsur berat
      jika berkenaan dengan hal yang kurang serius, atau jika menyangkut hal besar, di dalamnya tidak terdapat pengetahuan yang penuh dan persetujuan yang lengkap.
      Dosa ringan tidak merusak perjanjian dengan Allah, tetapi melemahkan cinta
      kasih dan memunculkan afeksi yang tidak teratur terhadap barang-barang ciptaan.
      Dosa ini menghalangi kemajuan jiwa dalam melaksanakan keutamaan dan dalam
      mempraktekkan kebaikan moral. Dosa ini patut mendapatkan ganjaran hukuman
      sementara yang memurnikan.

      ———————————-

      Jika terlambat tidak sengaja, tentu tidak masalah, misalnya kita berangkat 1 jam sebelum Misa, namun sampainya sudah pembukaan.
      namun ketika kita sudah tau akan ada hal ini, baiknya kita antisipasi hal tsb supaya tdk terjadi lagi, misalnya berangkat lebih awal dari biasanya.

      Suka

      • Tidak ada dosa besar atau dosa kecil! tidak ada dosa ringan atau dosa berat!! di 10 hukum Tuhan terlulis semua dosa, dan di Alkitab tertulis “Upah dosa ialah maut.” jadi tetap dosa ringan atau berat upahnya maut. jadi sakramen ekaristi tetap dosa ringan sama dengan dosa berat! hati-hati

        Suka

      • Sdr @Randy Michael T.
        Baiklah membaca ulasan berikut ini:

        “Semua dosa itu sama,” pernyataan ini sering terdengar diucapkan berbagai orang apapun agamanya. Benarkah demikian? Jawabannya bisa “ya” bisa “tidak.” Kita bisa menjawab “ya” bila yang dimaksud adalah “semua dosa itu sama [karena menjauhkan kita dari Allah].” Namun kita bisa menjawab “tidak” bila yang dimaksud adalah “semua dosa itu [nilainya] sama.”

        Tentunya tidak ada pihak yang tidak setuju dengan pemahaman bahwa “semua dosa itu sama [karena menjauhkan kita dari Allah].” Tapi masalah yang lebih menimbulkan perbedaan pendapat yang rumit adalah pemahaman “semua dosa itu [nilainya] sama.” Ini karena banyak pihak yang beranggapan bahwa mencuri mangga Pak Raden sama berdosanya dengan membunuh ayah kandung sendiri. Beberapa orang bahkan akan mengacu pada Yak 2:10-11 dimana dalam surat tersebut St. Yakobus mengatakan bahwa siapapun yang mentaati seluruh hukum namun melanggar satu saja maka dia telah bersalah atas seluruh hukum.

        Nanti kita akan kembali ke Yak 2:10-11, namun sementara apa yang diajarkan Gereja Katolik sendiri? Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

        1854 Dosa-dosa harus dinilai menurut beratnya. Pembedaan antara dosa berat dan dosa ringan, yang sudah terbukti di Kitab Suci (1Yoh 5:16-17), menjadi bagian dari tradisi Gereja. Pengalaman manusia menegaskannya.

        1855 Dosa berat merusakkan kasih dalam hati manusia oleh suatu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiannya, dan menggantikanNya dengan sesuatu yang lebih rendah.

        Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun [dosa ringan tersebut] melanggarnya (kasih) dan melukainya (kasih).

        Jadi Gereja mengajarkan adanya pembedaan dosa menjadi dosa berat dan dosa ringan. Yang cukup menarik Katekismus juga merujuk kepada 1Yoh 5:16-17. Dan sangat jelas di ayat tersebut bagaimana St. Yohanes mengajarkan ada dosa yang berat dan yang tidak. Ini berarti bahwa ajaran akan pembedaan dosa menjadi dosa berat dan dosa ringan memang ada di Kitab Suci.

        Bila mengingat kembali Yak 2:10-11, apakah ini berarti ayat 1Yoh 5:16-17 tidak konsisten? Tentu saja tidak. Dalam suratnya St. Yakobus mengatakan bahwa salah satu inti dari hukum Taurat adalah, “kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Yak 2:8) [inti hukum Taurat yang paling utama adalah “cintailah Allahmu lebih dari segala sesuatu”]. Seumpama kita membunuh sesama, apakah ini berarti kita mengasihinya? Tentu tidak. Seumpama kita berbuat cabul terhadap sesama, apakah ini berarti kita mengasihinya? Tentu tidak. Seumpama kita berbohong kepada sesama, apakah ini berarti kita mengasihinya? Tentu tidak. Jadi memang tiap pelanggaran perintah apapun dari hukum Taurat berarti bahwa kita telah melanggar semuanya. Karena toh dengan melanggar satu saja perintah Taurat maka inti dari hukum Taurat, yaitu untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri, telah kita langgar.

        Tapi apakah pelanggaran tiap perintah tersebut sama nilainya? Tentu saja tidak. Menurut hukum Taurat sendiri pembunuh dan pencabul dihukum mati (Ul 24:17, 20:10) namun apakah seorang pencuri atau pembohong akan sama-sama dihukum mati karena mereka juga melanggar hukum Taurat? Tidak. Menurut Taurat sendiri pencuri hanya dihukum mati bila dia mencuri sesama orang Israel dan memperlakukannya sebagai budak miliknya (Kel 21:16; Ul 24:7). Tapi bila si pencuri hanya mencuri sapi atau domba maka dia harus mengganti lima kali lipat kalau sapi atau domba yang dicuri mati dan dua kali lipat kalau sapi atau domba yang dicuri masih bisa dikembalikan, tapi kalau dia tidak mampu maka dia bisa dijual sebagai budak (Ul 22:1-4). Sedangkan pembohong yang melakukan kebohongan di pengadilan akan dihukum sesuai dengan niatan jahat dari kebohongan orang itu (Ul 19:16-19), maksudnya kalau si pembohong melakukan kebohongan agar bisa memiliki sapi tetangganya, maka si pembohong harus dihukum menurut nilai dari sapi tersebut.

        Mengingat adanya pembedaan nilai dari pelanggaran Hukum Taurat yang ditunjukkan dari perbedaan sanksi yang ditetapkan, maka jelas bahwa ketika St. Yakobus berkata “tetapi [barangsiapa] mengabaikan satu bagian daripadanya dia bersalah atas seluruhnya” di Yak 2:10 dia tidak bermaksud bahwa membunuh sama nilainya dengan berbohong. Yang dimaksudkan St. Yakobus adalah baik membunuh maupun berbohong sama-sama melanggar hukum Taurat, sama-sama melanggar inti dari hukum Taurat, sama-sama tidak mengasihi sesama.

        Apakah para Bapa Gereja Awal juga mengimani pembedaan dosa menjadi dosa berat dan dosa ringan? Berikut beberapa kutipan yang menunjukkan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “ya” :

        Tertullian
        “Siapa yang [mampu] mengampuni kecuali Allah sendiri?” dan, tentunya, [siapa kalau bukan dia yang dapat mengampuni] dosa berat (mortal), [suatu dosa yang sebegitu berat] yang telah dilakukan kepada dirinya sendiri dan kuilnya? (Modesty 21 [A.D. 220]).

        Pacian dari Barcelona
        Kepelitan diobati oleh kedermawanan, penghinaan oleh permintaan maaf, ketidak layakan oleh kejujuran dan untuk yang lain, penebusan bisa dilakukan dengan mempraktekkan yang berlawanan. Tapi apa yang bisa dilakukan orang yang mengejek Allah? Apa yang harus dilakukan pembunuh? Obat apa yang bisa ditemukan untuk pencabul? . . . Ini adalah dosa besar (capital), saudaraku, ini adalah berat (mortal).(Sermon Exhorting to Penance 4 [A.D. 385]).

        Jerome (Hieronimus)
        Ada dosa ringan (venial) dan dosa berat (mortal). Adalah satu hal untuk berhutang sepuluh ribu talenta, adalah hal lain untuk berhutang seperempat sen. Kita harus memberi perhitungan terhadap kata sia-sia seperti juga kepada percabulan. Tapi menjadi bersemu dadu (pipi kemerahan karena malu karena berkata sia-sia) dan disiksa (karena berbuat cabul) tidaklah sama; tidaklah sama untuk menjadi merah diwajah dengan mengalami kesakitan dalam waktu lama. . . . Jika kita meminta maaf atas dosa-dosa yang lebih ringan kita diberi maaf, tapi untuk dosa-dosa yang lebih berat, sulit untuk mendapatkan [permintaan maaf] yang kita minta. Ada perbedaan besar antara satu dosa dengan dosa yang lain (Against Jovinian 2:30 [A.D. 393]).

        Yohanes Kasianus
        Tapi [adalah] untuk perbaikan ketika Allah menghukum umatnya yang benar untuk dosa-dosa yang ringan (venial)… sehingga Dia bisa mencucikan semua pikiran kotor mereka… sehingga dapat menjadikan mereka seperti emas murni. (Conference 6 [+/- A.D. 390])

        Agustinus
        Beberapa akan berkata, “Kalau begitu setiap pencuri apapun akan diperhitungkan setara dengan pencuri yang mencuri dengan kehendak akan pengasihan?” Siapa yang akan berkata seperti ini? Tapi dari keduanya tidaklah berarti bahwa semuanya baik, karena yang satu lebih jelek. Yang lebih jelek adalah dia yang mencuri karena ingin memiliki barang orang lain, daripada dia yang mencuri karena kasihan: tapi jika semua pencurian adalah dosa, dari semua [tindakan] mencuri kita harus menghindar. Karena siapa yang boleh berkata bahwa orang bisa berdosa, meskipun dosa yang satu mengutuk [ke Neraka], sedang yang lain [dosa] ringan [venial]? … Karena pencuri-pencuri dihukum lebih ringan oleh hukum daripada kejahatan nafsu [cabul]; namun [kedua tindakan tersebut, mencuri dan cabul] adalah sama-sama dosa, namun yang satu lebih ringan, yang lain lebih berat. (To Consentius, Against Lying 19 [+/- A.D. 420)

        Rasanya sudah cukup bukti bahwa Alkitab dan para Bapa Gereja Awal dengan mufakat mengajarkan adanya pembedaan dosa menjadi dosa berat dan dosa ringan. Perhatian kita selanjutnya, sesuai judul tulisan, adalah mengerti lebih dalam tentang dosa berat dan dosa ringan dan hubungan keduanya.

        Seperti dijelaskan Katekismus dosa berat “merusakkan kasih dalam hati manusia” dan membuat manusia “memalingkan diri dari Allah” yang adalah “tujuan akhir kebahagiaan.” Dengan begitu maka mereka yang berdosa besar telah terpisah dengan Allah. Keterpisahan dengan Allah ini bila tidak segera diperbaiki akan berlaku selamanya… ini berarti neraka:

        1035 Ajaran Gereja mengatakan adanya neraka, dan bahwa neraka itu berlangsung selama-lamanya. Jiwa orang-orang yang mati dalam dosa berat turun langsung ke neraka, dimana mereka menderita hukuman neraka, “api abadi” (Bdk. DS 76; 409; 411; 801; 858; 1002; 1351; SPF 12). Hukuman utama dari Neraka adalah perpisahan abadi dengan Allah, yang hanya didalamNya manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagian, karena untuk itulah manusia diciptakan dan karena itulah yang dirindukan manusia.

        Konsekuensi dari dosa berat memang sungguh dahsyat. Sebentar lagi akan ditunjukkan lebih lanjut bagaimana suatu dosa bisa digolongkan menjadi dosa berat dan bagaimana memperdamaikan diri kembali dengan Allah setelah berdosa besar. Namun sebelumnya akan dijelaskan singkat mengenai dosa ringan.

        Dosa ringan punya akibat yang jauh lebih ringan dari dosa berat. Orang yang mati dalam kondisi berdosa ringan tidak masuk ke Neraka, tapi ke Api Penyucian. Dari Katekismus:

        1863 Dosa ringan melemahkan kasih; dosa ringan mewujudkan diri dalam kesukaan tak teratur akan barang-barang ciptaan; dosa ringan menghambat kemajuan jiwa dalam melakukan kebajikan-kebajikan dan tindakan-tindakan moral yang baik; dosa ringan layak mendapatkan hukuman sementara. Dosa ringan yang dilakukan secara sengaja dan tidak disesalkan mempersiapkan kita sedikit demi sedikit untuk melakukan dosa berat. Namun dosa ringan tidak memutuskan perjanjian kita dengan Allah. Dengan rahmat Allah dosa ringan bisa diperbaiki secara manusiawi. “Dosa ringan tidak membuat pendosa kehilangan rahmat pengudusan, persahabatan dengan Allah, kasih, dan tentunya kebahagiaan abadi” (Yohanes Paulus II, RP 17 § 9.)
        Sementara manusia berada dalam kedagingan, ia paling sedikit tidak dapat hidup tanpa dosa ringan. Tapi janganlah menganggap bahwa dosa yang kita namakan dosa “ringan” itu, tidak membahayakan. Kalau engkau menganggapnya sebagai tidak membahayakan, kalau menimbangnya, hendaklah engkau gemetar, kalau engkau menghitungnya. Banyak hal kecil membuat satu timbunan besar; banyak tetesan air memenuhi sebuah sungai; banyak biji membuat satu tumpukan. Jadi, harapan apa yang kita miliki? Diatas segala-galanya, yaitu, pengakuan (Agustinus, ep.Jo.1,6).

        Meskipun dosa ringan tidak membuat orang kehilangan kasih dan putus hubungan dengan Allah namun dosa ringan bisa “mempersiapkan kita sedikit demi sedikit untuk melakukan dosa berat,” dimana dosa berat itulah yang pada akhirnya akan membuat kita putus hubungan dengan Allah.

        Bisakah kita kemudian berkata, “Ah, kalau begitu ya dijaga saja jangan sampai berdosa besar. Kalau ringan tidak masalah?” Tentu tidak. Walaupun dosa ringan itu sendiri, berapa kalipun dilakukan, tidak akan membuat kita otomatis putus hubungan dengan Allah, namun efek kumulatif dari melakukan dosa ringan berkali-kali akan membuat kasih dan rahmat Allah dalam diri kita terlemahkan sehingga lambat laun kita akan sangat mudah jatuh kedalam dosa besar. Dan dosa besar itulah yang akan mengutuk kita ke neraka.

        Ada satu ilustrasi yang berguna: Ambil pisau kecil lalu iris kecil sekitar 2 cm di perut. Irisan kecil tersebut tidak mematikan. Dan meskipun seluruh badan di-iris 2 cm, kita juga tidak akan mati. Kita tidak akan kehabisan darah karena pada saat kita selesai mengiris semua badan maka lebih dari setengah dari irisan sudah mengering dan darah berhenti. Nah, apakah ada yang mau mengiris badan sendiri dengan anggapan toh irisan-irisan itu tidak akan membuat mati? Tentu saja tidak. Karena meskipun irisan itu tidak membuat mati namun irisan tersebut dapat menganggu kita dalam melakukan pekerjaan lain, misalnya saja bila rasa pedih dari irisan-irisan itu membuat kita tidak bisa berkonsentrasi dalam menyetir mobil, dan sebagai akibatnya kita mengalami kecelakaan dan mati. Bukankah ini merugikan? Begitu pula dengan dosa ringan.

        Setelah kita mengetahui apa yang diakibatkan dosa ringan dan dosa besar kepada kita maka perlu kita mengetahui kapan suatu dosa bisa disebut dosa besar dan kapan suatu dosa bisa disebut dosa ringan.

        Dosa dianggap berat bila memenuhi tiga kriteria: 1) materinya berat, 2) dilakukan dengan pengetahuan penuh, 3) dilakukan dengan rela (bdk. Katekismus 1857). Ketiga syarat ini harus dipenuhi semuanya agar suatu dosa bisa dikatakan berat. Bila satu atau dua syarat tidak terpenuhi, maka dosa tersebut adalah dosa ringan, bukan dosa berat (Bdk. Katekismus 1857).

        Materi yang berat mengandaikan bahwa persoalannya berat, besar dan serius. Mencuri Rp 100 atau mencuri satu buah Belimbing tentunya tidak seserius mengkorupsi dana perusahaan sebesar Rp 100,000 apalagi mengkorupsi uang milyar-an rupiah. Berbohong mengenai alasan tidak mengerjakan PR tentunya tidak seserius berbohong dalam penyidikan polisi atau berbohong di pengadilan. Untuk mengetahui materi-materi apa yang berat, petunjuk praktisnya biasanya adalah sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja. Berikut adalah beberapa daftar singkat materi yang tergolong berat yang biasanya sering dilakukan umat beserta referensi paragraph Katekismus: berkontrasepsi (2399), tidak ikut misa pada hari Minggu atau hari wajib tanpa alasan yang serius (1281), menikmati materi pornografi dalam media apapun (2354), masturbasi (2352), mengambil komuni padahal tahu masih belum mengakukan dosa beratnya (1415) dan lain-lan.

        Dilakukan dengan pengetahuan penuh berarti bahwa si pendosa tahu bahwa apa yang dilakukan adalah dosa yang berat dan bertentangan dengan kehendak Allah. Point ini sering menjadi pembenaran bagi mereka yang memang punya keterikatan dengan dosa. Mereka akan berargumen, “yah, kami tidak tahu kalau apa yang kami lakukan itu dosa berat.” Mereka berharap dengan pembenaran semacam itu maka syarat kedua tidak terpenuhi dan mereka tidak terkena dosa berat tapi hanya dosa ringan. Tentu saja bila seseorang benar-benar tidak tahu beratnya dosa yang dia lakukan maka syarat kedua tidak terpenuhi. Namun bagi mereka yang menipu diri sendiri [atau orang lain] dengan mengandaikan bahwa mereka sebenarnya tidak tahu keseriusan dosa mereka, maka mereka akan mendapat hukuman ganda. Pertama, mereka akan dihukum karena dosa mereka yang berat itu. Kedua, mereka akan dihukum karena menipu diri sendiri [atau orang lain]. Hendaklah kita jujur dan tulus terhadap Allah yang tahu apa isi hati kita lebih dari diri kita sendiri (Luk 16:15; 1Yoh 3:19-20).

        Dilakukan dengan rela berarti bahwa si pendosa tidak dipaksa untuk melakukan dosanya. Seorang pegawai yang ibunya diculik lalu kemudian dipaksa untuk mencuri uang perusahaan agas sang ibu bebas, tentunya tidak bisa dikatakan melakukan dosa berat. Sayangnya masih banyak juga yang mencoba menemukan lubang kelemahan dalam syarat yang satu ini. Ada yang berpikiran, “saya mencuri uang karena terpaksa, butuh biaya sekolah.” Apakah alasan ini merubah dosa berat menjadi ringan? Tidak. Karena kebutuhan biaya sekolah bukanlah kebutuhan mendesak yang melibatkan hidup mati seseorang secara langsung ataupun secara mendesak.

        Bila kita tahu bahwa kita telah melakukan dosa berat maka kita harus segera meperdamaikan diri dengan Allah. Hal terburuk yang bisa terjadi bila tidak segera memperdamaikan diri dengan Allah adalah bila kematian tiba-tiba menjemput. Dan orang yang mati dalam dosa berat akan segera masuk neraka (bdk. Katekismus 1035).

        Ada dua cara untuk menghapuskan dosa berat, yang satu mudah, yang satu sangat sukar. Cara yang paling mudah adalah, dengan niat menyesal dan ingin memperbaiki diri, segera berkunjung ke Romo untuk mengakukan dosa dalam Sakramen Tobat. Cara yang kedua, yang lebih sulit, adalah bila si pendosa mampu melakukan sesal sempurna. Katekismus menjelaskan:

        1452 Kalau sesal itu berasal dari cinta kepada Allah, dimana Allah dicintai lebih dari segalanya, maka sesal itu disebut “sempurna” (sesal kasih). Sesal seperti itu menghapuskan dosa-dosa ringan; sesal seperti itu juga mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa berat jika termasukkan didalamnya niatan untuk mendapatkan pengakuan yang sakramental secepat mungkin (Konsili Trente: DS 1677).

        Yang sulit dari sesal sempurna ini adalah mencintai Allah lebih dari segalanya. Banyak dari kita yang merasa bahwa diri sendiri pasti mencintai Allah lebih dari segalanya. Namun kebanyakan perasaan itu kurang tepat karena dalam lubuk hati kita sendiri masih banyak keterikatan duniawi.

        Harus dihindarkan sikap orang yang berasumsi, “aku sudah sesal sempurna, jadi tidak perlu mengaku dosa ke Romo. Nge-repot-repotin dan agak sungkan.” Mengapa? Karena seperti yang dikatakan Katekismus diatas, sesal benar-benar sempurna bila disertai niatan untuk mengakukan dosa bila sempat. Jadi bila seseorang mengaku telah melakukan sesal sempurna tapi dia tidak mengakukan dosa meskipun ada Romo yang bisa dihubungi dan dia tidak punya halangan serius untuk bertemu dengan Romo, maka pada kenyataannya orang tersebut sama sekali tidak pernah melakukan sesal sempurna.

        Untuk dosa ringan, banyak sekali cara untuk menghilangkannya. Dosa ringan bisa dihilangkan dengan menerima komuni kudus, berdoa “saya mengaku” pada awal misa, berdoa Bapa Kami, mengaplikasikan air suci pada diri sendiri. Semua tiu bisa menghilangkan dosa ringan asalkan dilakukan dengan niat tobat yang sesuai dengan dosa ringannya.

        Memang kadang-kadang setelah tahu hal-hal diatas, masihlah sangat sulit untuk membedakan mana dosa yang berat dan mana dosa yang ringan. Namun apakah suatu dosa itu berat atau ringan kita harus segera menghapuskannya dari dalam diri kita. Sakramen Tobat adalah sakramen yang menghapuskan baik dosa berat maupun dosa ringan. Dalam Sakramen Tobat pula kita bisa berkonsultasi kepada imam (Romo, Uskup), yang tentunya punya pengetahuan yang cukup, apakah apa yang kita lakukan termasuk dosa berat atau ringan. Jadi, bila ragu, segeralah mencari imam untuk konsultasi dan mengaku dosa.

        Pada akhirnya, marilah kita semua menghindari dosa seringan apapun agar nanti pada hari kematian kita siap bertemu dengan Allah dengan tak bernoda.
        http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2815

        Suka

  7. Pertanyaanku adalah bukankah semua dosa sama ya? kok sampai mengotakan dosa ringan dan dosa besar? bukankah di alkitab ada tertulis “Upah dosa ialah maut” kok dosa kecil di perbolehkan?

    contoh dosa kecil berbohong demi kebaikan!! Bohong demi kebaikan ya tetap adalah dosa. bohong adalah dosa, tidak ada dosa besar atau kecil. Upah dosa ialah maut. tidak ada toleransi di dalam dosa entah demi kebaikan atau apa, tetap upahnya maut.

    tolong hati-hati dalam memposting sesuatu

    Suka

    • Sdr Randy

      baiklah baca ulasan berikut ini mengenai dosa ringan dan dosa berat. Sungguh ini adalah ajaran iman Katolik, bukan tanpa dasar

      Katekismus Gereja Katolik menerangkan, “Dosa adalah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran dan hati nurani yang baik; ia adalah satu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Allah dan sesama atas dasar satu ketergantungan yang tidak normal kepada barang-barang tertentu. Ia melukai kodrat manusia dan solidaritas manusiawi. Ia didefinisikan (oleh St Agustinus) sebagai `kata, perbuatan atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi’” (No. 1849).

      Seturut tradisi, teologi moral Katolik membedakan antara dosa berat dan dosa ringan. Dalam surat pertama St Yohanes (5:17), kita baca, “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” Gagasan “dosa yang mendatangkan maut” atau dosa berat, kita dapati juga dalam bagian-bagian lain Kitab Suci. Sebagai contoh, surat St Paulus kepada jemaat di Galatia (5:19-21) menegaskan, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (bdk Roma 1:28-32; 1 Korintus 6:9-10; Efesus 5:3-5). Dengan demikian, Kitab Suci secara tegas mengidentifikasikan dosa-dosa tertentu yang membunuh rahmat Allah dalam jiwa dan menjauhkan orang dari keselamatan kekal.

      Katekismus menyebutkan bahwa supaya satu perbuatan merupakan dosa berat, harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan. Pertama, perbuatan yang dilakukan mempunyai materi berat atau serius. Dosa berat adalah keji di hadapan Allah. Sepanjang bagian moral dalam Katekismus, sebagian dosa dipandang sebagai “kejahatan sangat besar” (No. 2268). Sebagai misal, “Perintah kelima melarang pembunuhan langsung dan dikehendaki sebagai dosa berat.” Kedua, pendosa harus memiliki pengertian penuh mengenai kedosaan dari suatu perbuatan; dengan kata lain, ia haruslah bertindak dengan intelek yang tahu dan sadar bahwa perbuatan itu melanggar hukum abadi Allah. Ketiga, pendosa haruslah memberikan persetujuan penuh atas kehendak, artinya bahwa ia telah mempertimbangkan untuk melakukan perbuatan itu dan dengan sengaja mau melakukannya.

      Dosa berat merusakkan persatuan kita dengan Allah dan kehadiran rahmat pengudusan dalam jiwa kita. Oleh sebab perbuatan-perbuatan ini adalah keji di hadapan Allah, orang yang secara sadar dan mau melakukan perbuatan-perbuatan itu menyatakan diri berpaling dari kasih Allah. Barangsiapa sadar telah melakukan dosa berat wajib melakukan suatu pertobatan batin dan kemudian menerima pengampunan dan absolusi melalui Sakramen Tobat. Hingga ia mengakukan dosanya dengan baik dan menerima absolusi sakramental, ia yang sadar ada dalam keadaan dosa berat tidak boleh menyambut Komuni Kudus, terkecuali dalam keadaan luar biasa, misalnya: tak ada kemungkinan untuk menyambut Sakramen Tobat (bdk Katekismus Gereja Katolik, No. 1457). Di samping itu, seorang yang bersalah karena suatu dosa berat tetapi tak bertobat, secara obyektif menghadapi resiko kebinasaan abadi di neraka; tetapi “meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, namun kita harus menyerahkan penilaian mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah” (Katekismus Gereja Katolik, No. 1861).

      Di lain pihak, dosa ringan dilakukan apabila seorang melanggar peraturan hukum moral dalam materi yang tidak berat atau walaupun hukum moral itu dilanggar dalam materi yang berat, namun dilakukan tanpa pengetahuan penuh dan tanpa persetujuan penuh. Tidak seperti dosa berat, yang menyangkut sama sekali berpaling dari kasih Allah, dosa ringan melukai hubungan kita dengan Allah. Pengakuan dosa-dosa ringan secara berkala juga sangat dianjurkan sebagai bagian dari pembentukan hidup rohani yang baik. Sesungguhnya, semua dosa adalah serius, sebab dosa melukai hubungan kita dengan Tuhan dan sebab bahkan dosa ringan dapat menghantar orang pada dosa berat atau menjadi habitus jika tidak diperbaiki. Praktek mengaku dosa secara teratur membantu individu untuk membentuk suara batin yang lebih baik, menyadari kesalahan dan kelemahan, menolak pencobaan dan menerima rahmat Allah guna memulihkan dan memperkuat jiwa. St Theresia dari Avila mengatakan, “Senantiasa takutlah apabila kesalahan yang engkau lakukan tidak menyedihkanmu. Sebab mengenai dosa, bahkan yang paling ringan, engkau tahu bahwa jiwa patutlah merasa berduka atasnya…. Demi kasih kepada Allah, berhati-hatilah untuk tiada pernah lalai perihal dosa ringan, betapapun kecilnya…. Tak ada suatupun yang kecil apabila itu menyangkut melawan yang Mahakuasa.”

      Dengan gagasan ini dalam benak, kita dapat berbicara mengenai pilihan dasar. Gagasan pilihan dasar adalah bahwa setiap orang menentukan suatu pilihan dasar untuk mengasihi Allah, menerima kebenaran-Nya, dan menjadi murid-Nya. Meski demikian, pilihan ini perlu diamalkan setiap hari dalam hidup kita melalui pilihan-pilihan pribadi yang kita buat untuk melakukan yang baik. Dalam arti ini, pilihan dasar dapat diterima.

      Yang menyedihkan, sebagian orang menyalahtafsirkan pilihan dasar ini begitu rupa hingga tak dikenal lagi dosa berat. Melainkan, satu-satunya “dosa berat” yang dapat membawa jiwa ke neraka adalah jika orang dengan tahu dan mau menolak Allah dan segenap kasih-Nya. Pendapat yang demikian akan merendahkan pilihan dasar menjadi suatu permainan psikologis, di mana orang dapat mengatakan, “Aku mengasihi Allah. Aku tidak menolak Allah. Pilihan-pilihan ataupun perbuatan-perbuatan pribadiku tidak mempengaruhi keseluruhan keberadaanku. Sebab itu, meski aku melakukan perzinahan, atau membunuh seseorang, atau berbuat cabul, atau merampok bank, (atau melakukan dosa berat lainnya), Allah tetap mengasihi aku, aku mengasihi Allah, dan aku yakin aku akan masuk surga.” Renungkan kembali. Sementara hanya Allah yang dapat menyelidiki kedalaman jiwa dan menghakimi seseorang, namun secara obyektif, perbuatan-perbuatan itu adalah dosa berat. Memilih melakukan dosa berat berarti menyatakan suatu perlawanan terhadap hukum Allah. Melakukan perbuatan-perbuatan yang demikian merupakan bukti kurangnya kasih kepada Allah dan kepada sesama. Pada intinya, dosa berat menunjukkan suatu penolakan terhadap Allah. Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menulis dalam “Veritatis Splendor” (= Cahaya Kebenaran) bahwa, “Dengan demikian perlulah ditegaskan bahwa yang disebut pilihan dasar … selalu terjadi melalui keputusan-keputusan yang sadar dan bersifat bebas. Justru karena alasan inilah maka hal tadi dibatalkan bila manusia melibatkan kebebasannya dalam keputusan-keputusan yang sadar, terhadap hal yang bertentangan, yang menyangkut persoalan yang berat secara moral. Memisahkan pilihan dasar dari jenis-jenis konkret tingkah laku, berarti menentang keutuhan substansial atau kesatuan personal dari pelaku moral dalam tubuh dan jiwanya” (No. 67). Sebab itu, dosa berat dapat sama sekali mengubah pilihan dasar individu.

      Sementara kita melanjutkan ziarah Masa Prapaskah, baiklah kita tak hanya memperbaharui pilihan “dasar” yang telah kita buat bagi Tuhan, melainkan kita juga bertobat atas dosa dan berpaling kepada Tuhan mohon pengampunan. Marilah kita juga berdoa bagi orang-orang – teristimewa mereka dalam keluarga kita – yang telah menyimpang dan tak hidup dalam Tuhan, agar mereka kembali kepada Tuhan, mohon pengampunan dan hidup baru dalam Dia.
      http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id581.htm

      Salam Kasih

      Suka

      • Sy seorang misonary pernah belajar Bible College Sydney dan di italia. jadi saya paham dan saya banyak belajar saat belaajr alkitab dalam hal merenungkan, pemahaman dsbnya.

        saran saya. anda harus lebih banyak belajar alkitab, merenungkan dan jika anda punya rejeki anda belajar alkitab di italia biar pemahaman anda lebih terbuka dan jelas. biar anda dewasa dalam iman, bertumbuh berakar dan berbuah. jangan lupa anda juga saat teduh biar saat anda banyak memahami iman katolik dan lebih dekat dengan Allah Bapa.terima kasih.

        jangan punya paradigma yang salah. tolong belajar dulu pemahaman alkitab di roma italia baru anda bisa pahami

        Suka

      • Sy seorang misonary pernah belajar Bible College Sydney dan di italia. jadi saya paham dan saya banyak belajar saat belaajr alkitab dalam hal merenungkan, pemahaman dsbnya.
        ——————

        Nyatanya sdr belum bisa memahami surat St. Yohanes yang pertama (5:17). Secara jelas menyatakan ada DOSA YANG TIDAK MENDATANGKAN MAUT!

        saran saya. anda harus lebih banyak belajar alkitab, merenungkan dan jika anda punya rejeki anda belajar alkitab di italia biar pemahaman anda lebih terbuka dan jelas. biar anda dewasa dalam iman, bertumbuh berakar dan berbuah. jangan lupa anda juga saat teduh biar saat anda banyak memahami iman katolik dan lebih dekat dengan Allah Bapa.terima kasih.
        ——————

        Terima kasih atas sarannya, setiap dari kita jangan sampai tidak belajar iman Kekatolikan yang begitu indah.
        Nyatanya dalam Katekismus Gereja Katolik mengajarkan adanya dosa berat dan dosa ringan, salah satunya dalam pengajaran mengenai Ekaristi:

        KGK. 1416. Penerimaan tubuh dan darah Kristus yang kudus mempererat hubungan antara yang menerima komuni dengan Tuhan, mengampuni dosa-dosanya yang ringan, dan melindunginya dari dosa-dosa berat. Oleh karena ikatan cinta antara yang menerima komuni dan Kristus diperkuat, maka penerimaan Sakramen ini meneguhkan kesatuan Gereja, Tubuh Mistik Kristus.

        Ctt: Coba baca perlahan soal “Mengampuni dosa dosanya yang RiNGAN, dan melindunginya dari dosa – dosa BERAT.

        Jika sdr seorang Katolik dan belajar Kitab Suci yang dibawah bimbingan Gereja Katolik, tentunya mengenal dosa berat dan ringan.

        Sdr dapat membaca kutipan selanjutnya mengenai Sakramen pengakuan mengampuni dosa berat dan dosa ringan:

        KGK. 1447. Dalam sejarah, bentuk konkret dengannya Gereja menjalankan kuasa yang diterimanya dari Tuhan, mengalami perubahan-perubahan besar. Selama abad-abad pertama perdamaian warga Kristen, terutama mereka yang melakukan dosa berat sesudah Pembaptisan (seperti pemujaan berhala, pembunuhan, dan zina) dikaitkan pada satu disiplin yang sangat keras: para peniten harus melakukan penitensi untuk dosa-dosanya sering kali sampai bertahun-tahun di muka umum, sebelum mereka menerima pengampunan. Ke dalam “status peniten” ini (yang hanya dimaksudkan untuk dosa berat tertentu) seorang diterima jarang sekali, malahan di daerah-daerah tertentu hanya sekali seumur hidup. Tergerak oleh tradisi monastis di Timur, para misionaris Irlandia selama abad ketujub membawa praklik “penitensi perorangan” ke daratan Eropa. Praktik ini tidak menuntut cara berpenitensi yang panjang di muka umum sebelum orang mendapat perdamaian dengan Gereja. Sakramen terjadi atas cara yang rahasia antara peniten dan imam. Praktik baru ini memberi kemungkinan untuk mengulanginya dan dengan demikian mengantar menuju penerimaan Sakramen Pengakuan secara teratur. Ia membuka kemungkinan, memberi pengampunan atas dosa berat dan dosa ringan dalam satu upacara saja. Itulah garis besar bentuk pertobatan yang Gereja gunakan sampai hari ini.

        Ctt: baca berulang ulang kata : Ia membuka kemungkinan, memberi pengampunan atas dosa BERAT dan dosa RINGAN dalam satu upacara saja.
        ———————————————————–

        jangan punya paradigma yang salah. tolong belajar dulu pemahaman alkitab di roma italia baru anda bisa pahami

        Nyatanya bahwa sdr memiliki pemahaman yang kurang tepat soal dosa. sudah sangat jelas Gereja mengajarkan adanya dosa ringan dan dosa berat.

        Suka

    • Dosa berat itu semua kesalahan menurut saya….
      Knpa hrus mempermaslhkan berat enggaknya dosa….
      Knpa gk mikir untk menjauhi dosa yah…
      Berfikir positif jika suatu wacana itu dapat mendidikmu maka bersyukurlah…jika itu tdk berkenan padamu maka lupakanlah…
      Perkara2 besar dan perkara2 kecil

      Suka

      • Nyatanya bahwa memang dibedakan dosa berat dan dosa ringan.
        Kedua duanya tidak baik, dan wajib dihindari.
        Dosa berat menyebabkan terputusnya hubungan kita dengan Allah, sedangkan ringan merusaknya.

        Dalam hal ini, orang yang dosa berat tidak diperkenankan menerima komuni.

        Suka

  8. saya mau bertanya soal diekskomuni point no 4 soal abortus..jika seorang melakukan abortus dan merasa bersalah kemudian dia bertobat apakah dia tetap tidak layak menerima komoni?bukankah Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa?kenapa gereja seolah-olah membatasi orang yang mau bertobat….bukankah Yesus menerima semua pertobatan?mohon penjelasannya

    Suka

    • Sdr Albert, tampaknya ada kesalahpahaman dalam hal ekskomunikasi tersebut .

      Seperti yang telah dijelaskan pada point ke 4, itu merupakan bagaimana orang dapat terkena hukuman ekskomunikasi, bukan mereka yang sudah tercabut hukuman tsb.

      Orang yang melakukan aborsi dan berhasil, maka ekskomunikasi secara otomatis pada yang bersangkutan.
      Orang yang bersangkutan dapat menerima komuni kembali jika sudah menyesal dan bertobat(mengaku dosa).
      Menurut Hukum Kanonik, yang memiliki wewenang untuk mengabsolusi dan mencabut hukuman ekskomunikasi tersebut adalah Uskup. Namun Uskup dapat mendelegasikannya pada Imam (di regio Jawa, para imam dapat memberi absolusi dan pencabutan ekskomunikasi bagi yang melakukan dosa abortus)
      Di tahun rahmat ini, Paus Fransiskus meluaskan wewenang ini kepada seluruh imam (berhak memberi absolusi dan pencabutan ekskomunikasi) dari tanggal 8 Desember 2015 ( HR SP Maria dikandung tanpa noda) sampai HR Kristus Raja Semesta Alam (2016)

      Demikian jawabannya. Salam Kasih.

      Suka

    • Bertobat itu bukan cuma masalah “merasa diri bertobat kemudian berperilaku seperti biasa tanpa harus menanggung apapun”. Analogi Anda sama seperti kalau Anda tiba-tiba terserang stroke tapi tidak mau ke rumah sakit dengan alasan “kan saya sudah merasa sembuh, kan tadi doang terserangnya”. Dosa itu adalah penyakit rohani, yang kalau tidak segera disembuhkan dengan pergi mengaku dosa akan menyebabkan kematian jiwa. Tempat di mana jiwa-jiwa mati kekal hanya ada di Neraka.

      Tuhan Yesus memang datang untuk menebus dosa kita, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya berbuat dosa dengan alasan itu. Sebab kita tidak menganut prinsip Sola Fide yang mengatakan hanya iman sudah cukup buat selamat. Tidak! Bahkan St. Yakobus sendiri mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yak 2:14-26). Bahkan St. Paulus sendiri mengatakan bahwa dia masih harus berjuang “mengusahakan keselamatan” itu dengan berusaha menghindari dosa supaya keselamatan tidak terlepas darinya.

      Bertobat itu memang ribet, tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Yesus sendiri bilang bahwa mereka yang akan ikut Dia bukan akan mendapat kesenangan-kesenangan duniawi, namun harus MENYANGKAL DIRI dan MEMANGGUL SALIB bersama Kristus (Mat 16:24). Maka Gereja seturut ajaran Yesus juga setia membimbing umat Allah yang rapuh untuk bertobat dan menuju ke Sang Jalan Kebenaran dan Hidup, yakni Kristus sendiri.

      Lagipula soal komuni, St. Paulus sendiri berkata bahwa jika kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus dalam kondisi tidak layak / berdosa berat, kita telah berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan serta mendatangkan hukuman atas kita sendiri (1 Kor 11:27-29). Berdosa saja sudah mendatangkan hukuman apalagi kalau kita terekskomunikasi yang berarti kita “diusir” dari keanggotaan Gereja.

      Suka

  9. di alkitab ada tertulis “Upah dosa ialah maut”
    contoh dosa ringan berbohong demi kebaikan!! Bohong demi kebaikan ya tetap adalah dosa. bohong adalah dosa, tidak ada dosa besar atau kecil. Upah dosa ialah maut. tidak ada toleransi di dalam dosa entah demi kebaikan atau apa, tetap upahnya maut.

    pertanyaan saya “kalo anda buat dosa ringan tiap hari, apakah itu baik? gak kan? anda tetep mendapatkan maut jika ga bertobat.

    Kembali ke menu awal » Bible Topics » Dosa
    Dosa

    Apakah itu dosa? Dosa adalah melanggar hukum Allah. Ada dalam Alkitab,“ Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4) “Semua kejahatan adalah dosa” (1 Yohanes 5:17)

    Apakah hukum Tuhan itu? Ia menulis dengan tanganNya sendiri di atas log batu. Ada dalam Alkitab,“ (1)Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (2) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (3) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.(4) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.(5) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (6)Jangan membunuh. (7) Jangan berzinah. (8) Jangan mencuri. (9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. (10) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Keluaran 20:3-17)

    Prinsip dasar dari hukum Allah diringkas dalam satu kata –kasih. Ada dalam Alkitab,“ Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40)

    Dosa berasal dari dalam hati. Ada dalam Alkitab,” Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” ,“ (Markus 7:20-23)

    Tidak seorangpun lebih baik dari orang lain – kita semua berdosa. Ada dalam Alkitab,“ Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” (Roma 3:9-10)

    Tanpa Yesus, konsekuensi dari dosa kita adalah maut. Ada dalam Alkitab,“ Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)

    Bagaimana jika saya tidak yakin apakah dosa-dosa saya tersebut? Ada dalam Alkitab,“ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)

    Akuilah dosamu kepada Allah dan terimalah pengampunan. Ada dalam Alkitab,“ Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9)

    Apakah ada dosa yang tidak terampuni? Ada dalam Alkitab,“ Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” (Lukas 12:10)

    Sebagai simbol bahwa kita telah berpaling dari dosa, kita haruslah dibaptis. Ada dalam Alkitab,“ Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, “(Lukas 3:3)

    Jika kamu merasa sebagai seorang berdosa yang tidak memiliki harapan, apakah yang harus kamu lakukan? Pertama adalah mengakui dosamu. Ada dalam Alkitab,“ Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mazmur 51:2-4)

    Kedua, mintalah pengampunan akan dosamu. Ada dalam Alkitab,“ Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!” (Mazmur 51:7-12),

    Ketiga, Percaya bahwa Tuhan telah mengampuni mu dan berhentilah merasa bersalah. Ada dalam Alkitab,“ Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya.” (Mazmur 32:1-6)

    Kesimpulan adalah, dosa ringan = dosa berat -> Upah dosa ialah maut. jangan menyampingkan atau anda melenceng dari alkitab.

    Suka

    • Seperti ulasan yang pernah saya balas di postingan sdr sebelumnya bahwa :

      Dalam surat pertama St Yohanes (5:17), kita baca, “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.”

      Ada dosa yang tidak mendatangkan maut, inilah dosa ringan.

      Jika sdr baca ulang ulasan saya, sdr akan mengerti akan dosa berat dan dosa ringan.

      Perlu ditekankan juga, tidak ada yang lebih baik melakukan dosa yang mana, krn dosa adalah merusak cinta Allah, dan dosa berat malah me?putuskan hubungan dgn Allah.

      Mohon baca Kitab suci sesuai terang iman Katolik dan Katekismus Gereja

      Suka

      • Selamat sore, postingan saya kenapa di hapus? saya memberikan anda saran yang benar dan bijak. jika anda menghapus postingan saya berupa saran saya yang benar dan baik bearti anda seorang katolik yang tidak dewasa tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau membuka diri di sarankan yang benar. seorang katolik adalah seorang anak beriman dewasa mau membuka diri diberi saran baik benar dan amu belajar jika anda tidak mau di beri saran jangan memposting jika pemahaman anda belum 100% matang.

        Suka

    • Sdr. Randy, perlu Anda ketahui bahwa cara Gereja Katolik memahami konsep dosa sangat berbeda dengan cara saudara-saudari Protestan dkk memahaminya. Jika Anda bersekolah Alkitab di badan milik Protestan dan sejenisnya di Roma, Italia, tentu tidak ada gunanya Anda membandingkan tulisan ini dengan pengetahuan Anda selama bersekolah di Roma karena pemahaman konsep nya saja sudah berbeda. Lain cerita kalau Anda mengatakan Anda bersekolah di sekolah Alkitab milik Gereja Katolik di Roma, Italia, dan kemudian Anda bisa memunculkan argumen seperti ini SEOLAH-OLAH dalam pelajaran Anda di badan Alkitab milik Gereja Katolik itu mengajarkan bahwa tidak ada pembedaan dosa ringan dan berat.

      Dari seluruh ayat yang Anda sajikan di sini memang membahas dosa secara umum, bahwa dosa memang membawa maut, dan Gereja Katolik mengimani ini. Namun tentu tidak adil jika dosa mencuri kue buatan nenek disamakan dengan dosa membunuh dan memutilasi orang, atau dosa mengambil pulpen teman disamakan dengan dosa korupsi, karena mau bagaimanapun, meskipun dua-duanya adalah dosa, namun bobot nya tidak sama dan tidak bisa disamakan. Apa yang diajarkan dalam 1Yoh 5:16-17 sendiri sudah diimani oleh Gereja Perdana dan para Bapa Gereja, yang kemudian ajaran ini diteruskan oleh Gereja hingga saat ini. Seperti yang dikatakan St. Hieronimus sbb;

      Ada dosa ringan (venial) dan dosa berat (mortal). Adalah satu hal untuk berhutang sepuluh ribu talenta, adalah hal lain untuk berhutang seperempat sen. Kita harus memberi perhitungan terhadap kata sia-sia seperti juga kepada percabulan. Tapi menjadi bersemu dadu (pipi kemerahan karena malu karena berkata sia-sia) dan disiksa (karena berbuat cabul) tidaklah sama; tidaklah sama untuk menjadi merah diwajah dengan mengalami kesakitan dalam waktu lama. . . . Jika kita meminta maaf atas dosa-dosa yang lebih ringan kita diberi maaf, tapi untuk dosa-dosa yang lebih berat, sulit untuk mendapatkan [permintaan maaf] yang kita minta. Ada perbedaan besar antara satu dosa dengan dosa yang lain (Against Jovinian 2:30 [A.D. 393]).
      Sumber: http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2815

      Silahkan baca penjelasan Gereja mengenai dosa ringan dan berat di link yang sudah saya berikan. Di sana sudah membahas lengkap sekali mengenai perbedaan dosa ringan dan berat.

      Pada akhirnya, penting sekali untuk terbuka dan saling berdiskusi mengetahui bagaimana antar Gereja dan komunitas gerejawi semacam Protestan dsb memahami konsep dosa sehingga kelak kita dapat bersatu menemukan titik tengah menuju Persatuan dalam nama Kristus, Sang Jalan Kebenaran dan Hidup.

      Suka

      • Selamat malam saudara, hahaha 🙂 Ia saya paham dan memahami tapi jujur sebenarnya masih banyak saya ingin jelaskan, saya ingin menjelaskan semua tapi masalahnya cuma ini kan sosial media dan saya tidak ingin kita 1 kepercayaan dan keyakinan berdebat masalah seperti ini. kalo saya mau luruskan juga nanti kita saling komen-komen lagi saudara terkasih. saya masih bisa luruskan semua itu. saya sekolah alkitab katolik di italia (bukan saya sombong) dan saya banyak belajar di venecia, perugia, verona dan roma tentang ke katolikan tapi cuma kalo di jelaskan lagi panjang dan bisa saling mengeluarkan argumen satu sama lain karna saya ingin menjaga nama baik blogspot ini, bukan memblame/menjadikan saling debat tapi saling membangun dan memotivasi. tapi kalo mau banyak diskusi dengan saya bisa email saja.

        jadi saya cuma bisa berkata semoga setiap postingan menjadi berkat dimana-mana

        Suka

      • Terima kasih sdr Cumi atas bantuan dan tambahannya .
        Ternyata sdr Randy berasal dari komunitas Protestan ya . Welcome
        Inilah ajaran Katolik,mengenai dosa berat dan dosa ringan.

        Masalah saya menghapus, saya tidak menghapus… saya hanya unapprove. Hal ini sudah cukup bagi saya untuk membagikan ajaran Katolik mengenai bobot dosa.
        Terima kasih .

        Suka

    • Oh iya sdr. Randy, pengajaran Gereja Katolik sendiri tidak hanya berdasar pada Kitab Suci saja, sebab seperti yang dikatakan dalam Yohanes 21:25, terlalu banyak yang diajarkan Yesus sehingga Kitab Suci saja tidaklah cukup. Maka seperti yang diajarkan dalam 2 Tesalonika 2:15 untuk berpegang teguh pada Ajaran Tertulis dan LISAN, kami juga berpegang pada warisan dan ajaran Yesus dan Para Rasul yang diajarkan secara lisan, kemudian diteruskan oleh para Bapa Gereja, yang kemudian diwariskan dalam bentuk Tradisi Suci Gereja, bisa dalam rupa Katekismus Gereja Katolik, Dokumen Gereja, dsb. Ketika Gereja Katolik mengkanonkan Kitab Suci pada abad ke 4-5 (Kitab Suci nya sama dengan Kitab Suci nya Protestan dong), Gereja juga tidak berkata bahwa “Pokoknya harus percaya sama Kitab Suci saja”, tapi umat juga diajarkan untuk berpegang teguh dengan apa yang Tradisi Suci Gereja wariskan dan ajarkan. Nah kalau Anda sekolah di Roma harusnya tahu dong soal ini, kecuali Anda bersekolah di sekolah Alkitab non-Katolik mungkin 😉

      Suka

      • Selamat malam saudara, hahaha 🙂 Ia saya paham dan memahami tapi jujur sebenarnya masih banyak saya ingin jelaskan, saya ingin menjelaskan semua tapi masalahnya cuma ini kan sosial media dan saya tidak ingin kita 1 kepercayaan dan keyakinan berdebat masalah seperti ini. kalo saya mau luruskan juga nanti kita saling komen-komen lagi saudara terkasih. saya masih bisa luruskan semua itu. saya sekolah alkitab katolik di italia (bukan saya sombong) dan saya banyak belajar di venecia, perugia, verona dan roma tentang ke katolikan tapi cuma kalo di jelaskan lagi panjang dan bisa saling mengeluarkan argumen satu sama lain karna saya ingin menjaga nama baik blogspot ini, bukan memblame/menjadikan saling debat tapi saling membangun dan memotivasi. tapi kalo mau banyak diskusi dengan saya bisa email saja.

        jadi saya cuma bisa berkata semoga setiap postingan menjadi berkat dimana-mana

        Suka

  10. Kenapa ya? Dalam ajaran katolik hanya romo nya saja yang minum anggur.
    Padahal kan anggur kan melambangkan darah kristus untuk menebus dosa manusia.
    Kalau yang minum hanya romo sih, ya cuma dosa romo saja yang di hapus,. Lalu umatnya.,????????

    Suka

    • Dalam ajaran Gereja Katolik, anggur yang sudah dikonsekrasi bukan lambang darah Kristus, tetapi itu adalah sungguh – sungguh darah Kristus sendiri.
      mengapa hanya roti yang dibagikan saja? sebenarnya anggur boleh dibagikan juga kepada umat, namun mengingat Indonesia masih belum bisa memproduksi sendiri anggurnya, dan dari segi biaya juga mahal, maka hanya roti saja yang dibagikan.
      perlu diketahui, menerima Tubuh Kristus (hosti) juga sudah menerima darah Kristus, sebab bukanlah daging jika tanpa darah.
      daging dan darah adalah komponen yang tdak dapat dipisahkan.

      alasan lain mengapa hanya romo saja yang menerima anggur adalah, karna anggur adalah bentuk cair dan rentan jatuh ke lantai. Ini menghindari hal yang tidak diinginkan.

      Suka

  11. Salah seorang katekis di Gereja saya pernah menjelaskan. Bahwa selain hal tsb diatas, jika kondisi seseorang sebelum menghadiri misa dibawah amarah dan dibawa masuk mengikuti misa, bisa dinyatakan tdk layak menghadiri misa dan menerima komuni. Apakah itu benar? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

    Suka

  12. Saya pernah menerima penjelasan dari seorang katekis di Gereja kami. Bahwa jika seseorang yang menghadiri misa dgn membawa amarah, dan tetap menghadiri misa serta menerima komuni, itu tidak dibenarkan juga. Jadi kita diminta umtuk berdamai dengan diri kita sendiri. Sama halnya dengan sblm komuni kita masih sempatkan makan terlebih dahulu. Apakah itu benar seperti itu? Mohon penjelasannya. Terima kasih

    Suka

  13. Yg ingin saya tanyakan jika seseorang melakukan dosa berat tapi rindu untuk menerima sakramen ekaristi apakah di perbolehkan?

    Suka

  14. hahah,,,, lucu, ini tipe orang2 yang kurang percaya sama KRISTUS, tetapi mereka lebih menaruh hati kepada si paus itu…
    saya punya satu pertanyaan buat anda yang lebih patut menuruti aturan paus daripada aturan TUHAN YESUS sendiri yaitu apa berbedaan antara ekaristi yang merupakan puncak iman kristiani dan dasar iman orang percaya?? apakah anda tau apa dari iman?? yakinkah anda iman dapat dibagi2 ??

    Suka

    • Sdr. Cali

      Apa itu puncak Iman Kristiani? Puncak iman Kristen terletak pada karya penebusan Kristus diatas kayu Salib. Dengan totalitas, Ia menyerahkan diri untuk menebus dosa umat manusia.

      Dasar iman kita yakni Kristus, tiang penopang dan dasar kebenaran kita adalah Gereja Allah yang hidup.

      Mengapa anda katakan lebih menaruh hati kepada Paus?
      apakah yang anda ketahui tentang Paus?
      Alkitab yang anda pegang dan baca terus mengimani isinya adalah hasil kanonisasi Gereja Katolik. Anda percaya Injil karangan Matius berarti anda mengikuti perintah Paus.
      mengapa tidak memakai injil karangan Petrus, Maria, dll saja untuk jadikan sumber iman?

      Dari sebab itu, bijaklah menyampaikan argumen.

      Salam

      Suka

  15. Dosa berat atw ringan tetap namax dosa..
    Lagi pula yg namax dosa entah itu berat/ringan yg berhak menentukan adalah Tuhan bkn manusia bahkn imam skalipun.
    Ini msalh hati yg tdk bisa di lht oleh siapa pun kcuali Tuhan jdi jgn seolah mw jdi hakim dlm gereja..klu mw melarang maka sangt pantas melarang pasutri yg blm nikah itu yg tepat.klu mw membeda – bedakn lalu yg dosa berat ini siapa yg akan mengampuni dosax?Imam ka?atw ada utusan Tuhan yg lain yg melakukan pengampunan itu? Dosa itu sama dgn keyakinan.urusanya dgn Tuhan Yesus bkn dgn manusia.

    Suka

    • Sdr Jeco
      adalah benar dosa tidak dapat dilihat oleh manusia, namun ada beberapa dosa yang dapat terlihat seperti pernikahan diluar Gereja atau hidup bersama tanpa status.
      Dosa adalah tanggungan pribadi di hadapan Tuhan; Gereja menjadi penuntun, menyatakan kesalahan wajib membawa umatnya pada pemahaman ini.
      Oleh sebab itu, GEREJA MEMPERINGATKAN bahwa adalah BERDOSA menyambut Tubuh dan darah Tuhan dalam keadaan berdosa berat. Kalaupun umat berkeras hati soal ini, adalah baginya dosa pencelaan terhadap kemuliaan tubuh dan darah Tuhan.

      Sepertinya terlihat pertentangan di dalam pernyataan sdr, Bagaimana menyatakan larangan terhadap pasutri yang belum menikah? bukankah itu sdr menjadi hakim bagi mereka? 🙂
      Saya tidak menyatakan bahwa salah bagi pasutri yang hidup bersama tanpa menerima berkat/Sakramen Gereja.
      Namun ketika saudaramu berdosa, tegorlah ia. Inilah ajaran Yesus 🙂

      Suka

  16. mau nanya, sya sudah menikah dgn istriku walau dl nikah di gereja tp istriku msh Islam jd blm ada panggilan dlm hatinya, dan saya ga mau menuntut atau memaksakan dia untuk sama keyakinan dgn saya. Tp anak saya ajarkan ikut saya. yang saya tanyakan apa saya masih bs menerima sakramen Ekaristi di gereja, TRIms,saya tunggu jawaban nya….

    Suka

  17. Saya mau tanya poin ke 2. Mksdny ikut persekutuan gereja protestan itu seperti apa ya?

    Apakah tidak boleh mengikuti kebaktian di gereja protestan? Karena anak saya sekolah di sekolah kristen dan kadang ada acara kebaktian sekolah yg mengharuskan orang tua hadir.

    Lalu apabila seseorang yang beragama katholik apakah diperbolehkan melakukan pelayanan seperti koor di gereja protestan?

    Terimakasih

    Suka

    • Sdr. Jaemily, pada dasarnya umat Katolik dilarang mengikuti / berpartisipasi aktif dengan kegiatan/ peribadatan non Katolik.

      Point yang ke dua sebenarnya menjelaskan bahwa walaupun seorang terbaptis, namun karena bukan anggota Gereja Katolik, dalam keadaan wajar tidak diperkenankan menerima komuni.

      Jika anak sdr mengikuti kegiatan koor sebagai tuntutan sekolah, itu tidak menjadi masalah. Namun tentu harus dibekali iman Katolik, serta menjelaskan perbedaan dan keyakinan kita bahwa Kristus hanya mendirikan Gereja Katolik, bukan yang lain.

      Demikian jawabannya…

      Suka

  18. Saya kan lagi masa belajar komuni dan sebentar lagi hampir menerima tubuh dan darah kristus, saat itu saya sudah pengampunan dosa tapi saya setelah pengakuan dosa saya malah bermastrubasi saya menyesal sekali melakukanya dan saya bingung minggu depan harus terima tubuh dan darah kristus tapi saya malah melakukan dosa apa yang harus saya lakukan?
    Apakah dengan berdoa minta pengampunan dirumah setiap kali sampai puncak komuni dapat mengampuni dosa yang saya perbuat pada saat itu? Tolong jawab

    Suka

    • Sdr. Haris yang baik.
      Pertama saya ucapkan selamat atas komuni pertamanya. KiraNya Allah yang bersemayam dalam raga dan jiwa kita selalu menguduskan dan menghantar kita pada kehidupan kekal.

      Mengenai hal ini, Sdr. Haris harus mengakukan dosa lagi di hadapan imam, karena untuk menerima Tubuh dan darah Tuhan harus bebas dari keterikatan dosa berat.

      Suka

  19. Bila seseorang sudah memiliki dosa berat dan masih belum siap menerima sakramen tobat, apakah dia tidak diperbolehkan mengikuti misa atau tetap bisa mengikuti misa tetapi tidak boleh menerima Komuni? Terimakasih 🙏🏻

    Suka

    • Deae Adelia,

      Seorang yang memiliki dosa berat tetap harus mengikuti perayaan Ekaristi di hari yang di wajibkan oleh Gereja. Namun untuk penerimaan komuni tetap dapat dilakukan setelah menerima sakramen Tobat.

      Demikian,
      Terima kasih.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s