HABIS KOMUNI – PULANG?

Sahabat Yesus yang terkasih,

Tahukah bahwa kata “Misa” diambil dari Ritus penutup perayaan Ekaristi, “Ite, Missa est“. Merupakan berasal dari bahasa latin “Missa”, yang secara harafiah diartikan sebagai “pergi berpencar”, atau “diutus”. Oleh karena itu setiap akhir Misa, Imam ataupun oleh Diakon mengucapkan “Marilah pergi, kita diutus!“.

Namun bukan hal ini yang ingin kita bahas (walaupun akan menyinggung makna perutusan), melainkan: Menerima Komuni kudus  tanpa mengikuti doa sesudah komuni, bahkan ritus penutup (Berkat dan perutusan). Tidak jarang hal ini terjadi dalam setiap Misa di Gereja Katolik. Tentunya sangat memprihatinkan, dan tidak baik, karena bagaikan kita menghadiri suatu pesta, makan, dan pulang tanpa berpamitan dengan tuan pesta. Maka ada juga “meme” menarik yang menyindir umat yang meninggalkan gereja setelah menerima komuni, isinya “Menerima komuni langsung pulang? Yudas Iskariot yang pertama melakukannya lho!”.

Dalam perayaan Ekaristi, jika kita melihat dalam buku Pedoman Umum Misale Romanum (PUMR) terbitan Nusa Indah menyebutkan bahwa bagian – bagian Misa terdiri dari Ritus Pembuka – Liturgi Sabda – Liturgi Ekaristi – Ritus Penutup. Bagian – bagian tersebut tentu tidak dapat dipisahkan maupun di pindahkan, misalnya ritus pembuka dilakukan setelah liturgi Ekaristi. Oleh karena itu, sangatlah penting suatu ritus dan juga kehadiran penuh dalam setiap bagian. maka  untuk menyambutNya harus didahului dengan suatu ritual [Jangan dibaca dengan konotasi yang negatif]. Kita tahu bahwa Ekaristi merupakan puncak iman Kristiani, karena disitu Kristus “ditinggikan” (Kurban Kalvari) dan dimuliakan.

Kembali kepada inti dari topik ini. Menerima komuni kudus tanpa menerima berkat dan perutusan adalah sikap yang “Kurang cinta”, karena pada dasarnya dalam ibadat tertinggi Gereja, Kristus pula yang hadir dan mempersembahkan kurban bagi Allah Bapa. Sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus merupakan inti perayaan Liturgi, yang ketiganya tidak dapat dipisahkan, dan yang ketiganya menjadikan kita sebagai saksi sekaligus seorang pewarta. Maka sebagai saksi dan pewarta, kita diutus mewartakan Sabda Tuhan yang telah diperdengarkan dalam Misa Kudus, yang serta tubuh  dan darahNya menjadi kekuatan iman. Dimana letak “kurang cintanya“? Dapat disimpulkan bahwa kita menerima kekuatan iman (menyambut komuni), namun tidak mau menjadi seorang pewarta( baca juga sebagai makna : Diutus).

Menerima Komuni tanpa menerima berkat dan perutusan juga sebagai tindakan yang “tidak sopan”. Sebab empunya pesta belum mengakhiri pestanya, namun kita sendiri yang mengakhirinya. Bayangkan hal ini terjadi dalam pesta atau momen penting hidup kita.  Menerima komuni kudus berarti mengimani dan meyakini seluruh keyakinan dan keimanan yang dipelihara oleh Bunda Gereja. Umat beriman yang menerima baptisan, menjadi anak – anak Allah yang dituntut untuk mewartakan sabdaNya dengan perkataan maupun perbuatan dimana pun ia berada, dan inilah yang disebut perutusan.

2 thoughts on “HABIS KOMUNI – PULANG?

  1. Apabila kita pernah membaca “PENGLIHATAN BRUDER KOSTKA ” di google jelas sekali bahwa Berkat pada akhir misa disampaikan sendiri oleh Tuhan Yesus , jadi kita rugi sendiri apabila pulang sebelum Berkat

    Suka

  2. Ping-balik: Lima Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menerima Komuni | Spe Salvi Facti Sumus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s