Kehadiran Tuhan Dalam Liturgi Kudus

Saudara/i terkasih dalam Tuhan,

Ketika berbicara Liturgi, maka tidak terlepas dari beberapa perbincangan, diantaranya: Allah sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur yang dikonsekrasi oleh imam, partisipasi umat beriman,  dan peraturan-peraturan liturgi. Walau bagaimana pun, kehadiran Allah secara nyata dalam Liturgi(Perayaan Ekaristi) tidak bergantung dari persoalan partisipasi umat beriman, maupun tata aturan Liturgi; Allah hadir sebagai tindakan Ilahi dan Gereja. Bukan berarti persoalan partisipasi umat beriman dan peraturan Liturgi boleh diabaikan, tidak! Kedua hal itu juga sangat penting, tidak boleh diabaikan sama sekali.

_DSC5007.JPG

Baca lebih lanjut

Lima Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menerima Komuni

Saudara/i terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

“Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan melaluinya Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan wafat dan kebangkitan Tuhan, di mana Kurban salib diabadi-kan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus. Sedang-kan sakramen-sakramen lain dan semua karya kerasulan gerejawi melekat erat dengan Ekaristi mahakudus dan diarahkan kepadanya.” Begitu indahnya rumusan yang diuraikan pada Kitab Hukum Kanonik mengenai Sakramen Ekaristi (No. 897). Sakramen-sakramen Gereja saling mengikat dan berpaut pada Ekaristi.

Begitu agung dan luhurnya Ekaristi, diaturlah tata cara perayaannya sedemikian indah seraya tidak melupakan partisipasi aktif umat beriman. Oleh sebab itu, hal-hal yang perlu kita ketahui dan siapkan sebelum menyambut komuni adalah sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Mengapa Misa Dalam Bahasa Latin?

Fratres,

Sebenarnya pada masa pontifikat Paus St. Yohanes Paulus II, Misa Latin Tradisional atau Misa forma extraordinaria sudah diizinkan, sebelumnya pontifikat beliau pun tidak pernah ada dokumen yang melarang Misa tersebut. Atas inisiatif pribadi beliau, terbitlah dokumen yang berjudul Ecclesia Dei yang berisi sikap Kepausan terhadap Mgr. Lefebrve berserta beberapa imam yang ditahbiskan menjadi Uskup tanpa persetujuan Paus, dan perizinan bagi umat beriman yang masih mau menikmati Misa Kudus forma extraordinaria (yang lazim dirayakan sebelum Konsili Vatikan II). Paus juga mendirikan Komisi Ecclesia Dei guna memfasilitasi keinginan umat beriman akan Misa kudus forma extraordinaria. Keinginan pribadi Paus dengan menerbitkan dokumen Ecclesia Dei adalah Semoga komunitas Persaudaraan St. Pius X yang didirikan oleh Mgr. lefebrve bersatu kembali dalam pangkuan Bunda Gereja. Point ke-7 pada dokumen Ecclesia Dei: 

“As this year specially dedicated to the Blessed Virgin is now drawing to a close, I wish to exhort all to join in unceasing prayer that the Vicar of Christ, through the intercession of the Mother of the church, addresses to the Father in the very words of the Son: “That they all may be one!” “(sumber)

Baca lebih lanjut

LAGU “GLORIA” BUKANLAH MADAH KEMULIAAN

Gloria in excelsis Deo!

Saudara/i terkasih dalam Kristus Tuhan, pertama – tama saya ucapkan selamat Natal kepada pembaca artikel blog “Spe Salvi Facti Sumus”. Kristus Yesus Raja Daud telah lahir!.

Di masa Natal ini, suasana Gereja tampak mendukungnya baik dengan kehadiran kandang natal, pohon natal, hiasan pernak pernik, dan lain lain. Tentu termasuk lagu – lagu Liturgis Gereja yang membawa umat untuk lebih mendalami serta menghayati misteri penjelmaan (Inkarnasi), Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus! Pada hari Raya Natal (24 & 25 Desember) dan Hari Raya kabar sukacita( 25 Maret),doa Credo / Aku Percaya bagian “Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria.” (Syahadat singkat) atau “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (Syahadat Nicea – Konstantinopel) umat berlutut. – “Syahadat dilagukan atau didaras oleh imam bersama-sama dengan umat (bdk.no.68) sambil berdiri. Pada kata-kata “Ia dikandung dari Roh Kudus-menjadi manusia” seluruh umat membungkuk khidmat; tetapi pada Hari Raya Kabar Sukacita dan pada Hari Raya Natal, SEMUA BERLUTUT.”(PUMR  art. 137).

Baca lebih lanjut

KOMUNI SPIRITUAL

Fratres,

Kita tahu bahwa dalam keadaan dosa berat atau tidak berahmat, tidak diperkenankan menerima komuni kudus (Menerima roti dan anggu yang sudah dikonsekrasi oleh Imam) sebagaimana tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik: “Kan. 916 – Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.” Ataupun disuatu tempat tidak dirayakan Misa kudus dan juga tidak ada upacara pembagian komuni dalam ibadat [Tidak difokuskan / dibahas dalam artikel ini]. <baca juga 5 HAL UMUM YANG TIDAK MEMPERKENANKAN SESEORANG MENERIMA EKARISTI>

Baca lebih lanjut

HABIS KOMUNI – PULANG?

Sahabat Yesus yang terkasih,

Tahukah bahwa kata “Misa” diambil dari Ritus penutup perayaan Ekaristi, “Ite, Missa est“. Merupakan berasal dari bahasa latin “Missa”, yang secara harafiah diartikan sebagai “pergi berpencar”, atau “diutus”. Oleh karena itu setiap akhir Misa, Imam ataupun oleh Diakon mengucapkan “Marilah pergi, kita diutus!“.

Namun bukan hal ini yang ingin kita bahas (walaupun akan menyinggung makna perutusan), melainkan: Menerima Komuni kudus  tanpa mengikuti doa sesudah komuni, bahkan ritus penutup (Berkat dan perutusan). Tidak jarang hal ini terjadi dalam setiap Misa di Gereja Katolik. Tentunya sangat memprihatinkan, dan tidak baik, karena bagaikan kita menghadiri suatu pesta, makan, dan pulang tanpa berpamitan dengan tuan pesta. Maka ada juga “meme” menarik yang menyindir umat yang meninggalkan gereja setelah menerima komuni, isinya “Menerima komuni langsung pulang? Yudas Iskariot yang pertama melakukannya lho!”.

Baca lebih lanjut