Ada yang bilang: “Misa itu membosankan!”

Misa kali ini ada tari – tarian atau drama? Nanti Pastor A yang kocak itu pimpin Misa ya?” Begitulah kira – kira pertanyaan umat beriman yang merasa bahwa Misa mingguan dirayakan secara menoton, tidak semangat, dan bikin ngantuk. Maka tidak mengherankan bahwa ada yang asyik sendiri saat Misa berlangsung seperti ngobrol, main hp, bahkan cari ‘angin’ diluar Gereja. Pada saat komuni berlangsung, mereka tetap mengambil barisan untuk menerima tubuh dan darah Kristus. Setelah berdoa menerima komuni pun mereka melanjutkan aktivitas pribadinya daripada ikut bernyanyi atau hening. Hal ini dapat kita katakan wajar namun tetap memprihatinkan. Dikatakan wajar karena sebagai posisi mereka yang belum mendapat pengetahuan yang mendalam mengenai Ekaristi itu sendiri. Dikatakan prihatin karena rahmat Ekaristi dilewatkan begitu saja.

Baca lebih lanjut

Sia – siakah Rutin Menerima Sakramen Tobat?

Fratres,

Tidak dapat dipungkiri banyak umat beriman memiliki pemikiran bahwa menerima sakramen tobat atau pengakuan dosa berkali – kali merupakan sebuah kesia-siaan. Melakukan dosa lalu menyesalinya serta menerima Sakramen Tobat bagaikan sebuah roda yang terus berputar dalam kehidupan umat beriman. Maksudnya setelah bertobat jatuh dalam dosa lagi, bahkan dalam dosa yang sama. Tampak  ‘keputusasaan’ inilah yang menjadikan umat beriman enggan mengakukan dosa lagi. Pemikiran hal tersebut timbul mungkin dikarenakan merasa sedang mencobai kerahiman Allah. Pemikiran ini lambat laun tentu akan mengarah kepada penyangkalan Allah yang maha rahim.  Apakah benar sedang mencobai Allah?

Baca lebih lanjut

Aturan Gereja = Aturan Manusia?

Fratres,

Ketika kita berbicara mengenai aturan – aturan Gereja Katolik yang terdapat pada dokumen – dokumen Gereja, banyak yang beranggapan bahwa aturan tersebut “tidak perlu dijalani” jikalau hal itu merugikan atau menyulitkan baginya. “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Mrk 7: 7) Oleh sebab itu, tak heran slogan “Itukan aturan manusia, bukan Firman Tuhan”  pun menjadi perisai bagi mereka ketika menghadapi aturan – aturan Gereja yang terkesan mengekang kebebasannya dalam mengekspresikan iman. Padahal ayat tersebut tidak pernah menyatakan Yesus tidak menyukai peraturan – peraturan agama. Jika kita membaca seluruh perikop, minimal dari ayat 1 sampai 23, sesungguhnya yang dikritisi Yesus adalah adat istiadat/budaya manusia seperti harus mencuci tangan sebelum makan, tidak boleh membersihkan rumah dengan penyapu pada hari Imlek (tradisi Tiong Hua) dan sebagainya itu menyampingkan peraturan – peraturan yang ditetapkan dalam hukum Taurat. “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (ay. 8)

Berkas:Second Vatican Council by Lothar Wolleh 005.jpg

Konsili Vatikan II; Menghasilkan 16 dokumen, 4 Konstitusi, dan 3 Pernyataan

Baca lebih lanjut

HANCURKAN MISA, ANDA MERUSAK GEREJA!

Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus,

Dalam Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa lewat Putra Allah, dalam Roh Kudus. Sungguh penting untuk mengatur perayaan Ekaristi sedemikian rupa sehingga para pelayan dan umat beriman sekalian dapat berpartisipasi, serta memetik buah hasil Ekaristi sepenuh – penuhnya. Dengan maksud itu pula, Kristus mempercayakan misteri (Kurban Misa) ini kepada Gereja, mempelaiNya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitanNya. (PUMR Art. 17)

Baca lebih lanjut

LAGU “GLORIA” BUKANLAH MADAH KEMULIAAN

Gloria in excelsis Deo!

Saudara/i terkasih dalam Kristus Tuhan, pertama – tama saya ucapkan selamat Natal kepada pembaca artikel blog “Spe Salvi Facti Sumus”. Kristus Yesus Raja Daud telah lahir!.

Di masa Natal ini, suasana Gereja tampak mendukungnya baik dengan kehadiran kandang natal, pohon natal, hiasan pernak pernik, dan lain lain. Tentu termasuk lagu – lagu Liturgis Gereja yang membawa umat untuk lebih mendalami serta menghayati misteri penjelmaan (Inkarnasi), Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus! Pada hari Raya Natal (24 & 25 Desember) dan Hari Raya kabar sukacita( 25 Maret),doa Credo / Aku Percaya bagian “Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria.” (Syahadat singkat) atau “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (Syahadat Nicea – Konstantinopel) umat berlutut. – “Syahadat dilagukan atau didaras oleh imam bersama-sama dengan umat (bdk.no.68) sambil berdiri. Pada kata-kata “Ia dikandung dari Roh Kudus-menjadi manusia” seluruh umat membungkuk khidmat; tetapi pada Hari Raya Kabar Sukacita dan pada Hari Raya Natal, SEMUA BERLUTUT.”(PUMR  art. 137).

Baca lebih lanjut

SAKRAMEN TOBAT DAN RITUS TOBAT DALAM MISA

Saudara/i terkasih dalam Kristus Tuhan,

Sebagai orang yang dipanggil untuk menjadi murid – murid Tuhan Yesus, pertama – tama untuk memperoleh pengampunan dosa serta menjadi resmi sebagai anggota Gereja tentu menerima Sakramen baptis. Melalui Sakramen baptis, kita dijadikan sebagai anak – anak Allah yang berhak mewarisi kerajaan Allah. Seperti dikatakan, baptis itu sendiri mendatangkan pengampunan dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi yang dilakukan sebelum peristiwa pembaptisan. Namun ada hal yang tidak dihapus dari kita, yaitu kelemahan kodrat manusia dan kecendrungan kepada dosa (konkupisensi). Oleh karena itu, Yesus Kristus menetapkan Sakramen tobat bagi mereka yang terbaptis namun dalam perjalanan hidupnya dengan suka rela memisahkan diri dengan Allah (dosa). (bdk. KKGK pert. 297)

Baca lebih lanjut

TAHUN YUBILEUM – KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK

1449979561815

Pembukaan Pintu Suci Kerahiman, 13 Desember 2015

Surat ketetapan Uskup Agung Pontianak

Tempat Ziarah Tahun kerahiman

Mengingat: Bulla Paus Fransiskus yang menetapkan Tahun kerahiman mulai dibuka pada tanggal 08 Desember 2015, bertepatan dengan Pesta Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda dan ditutup pada tanggal 20 November 2016, bertepatan dengan Pesta Kristus Raja Semesta Alam

Memperhatikan: Kebutuhan umat akan tempat ziarah dalam rangka memperoleh Indulgensi.

Baca lebih lanjut

SEMANGAT DAN KESETIAAN MARIA (Reuni Tahunan Komisium Santa Maria Perawan yang Setia)

IMG20151128142218Reuni merupakan suatu kegiatan yang dilakukan setiap tahun sekali. Perjumpaan dengan para anggota Legioner dari berbagai daerah merupakan tanda persaudaraan yang saling mengikat satu sama lain dalam naungan Santa Perawan Maria yang tersuci. Reuni tahunan dilakukan pada tanggal 27 s/d 28 November 2015, bertempat di Biara Suster KFS (Kongregasi Fransiskan Sambas) Pontianak. Reuni tahunan ini dihadiri oleh:

Baca lebih lanjut

‘D’OA ‘S’YUKUR ‘A’GUNG = ‘D’UDUK ‘S’AJA ‘A’H

Saudara/i terkasih dalam Kristus Tuhan,

Kehadiran Tuhan Yesus secara nyata dalam rupa roti dan anggur adalah pada saat Doa Syukur Agung, tepatnya saat bagian kata konsekrasi: “terimalah dan makanlah …….”, “terimalah dan minumlah….” diucapkan oleh Imam. Doa Syukur Agung merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan, suatu doa syukur dan pengudusan (PUMR No. 78). Umat beriman diikutsertakan dalam doa agung yang disampaikan oleh Imam atas nama umat kepada Allah Bapa, dalam Roh Kudus, dengan perantaraan Yesus Kristus. Secara detail, Doa Syukur Agung mengandung bagian – bagian:

Baca lebih lanjut

KOMUNI SPIRITUAL

Fratres,

Kita tahu bahwa dalam keadaan dosa berat atau tidak berahmat, tidak diperkenankan menerima komuni kudus (Menerima roti dan anggu yang sudah dikonsekrasi oleh Imam) sebagaimana tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik: “Kan. 916 – Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.” Ataupun disuatu tempat tidak dirayakan Misa kudus dan juga tidak ada upacara pembagian komuni dalam ibadat [Tidak difokuskan / dibahas dalam artikel ini]. <baca juga 5 HAL UMUM YANG TIDAK MEMPERKENANKAN SESEORANG MENERIMA EKARISTI>

Baca lebih lanjut