Mengapa Misa Dalam Bahasa Latin?

Fratres,

Sebenarnya pada masa pontifikat Paus St. Yohanes Paulus II, Misa Latin Tradisional atau Misa forma extraordinaria sudah diizinkan, sebelumnya pontifikat beliau pun tidak pernah ada dokumen yang melarang Misa tersebut. Atas inisiatif pribadi beliau, terbitlah dokumen yang berjudul Ecclesia Dei yang berisi sikap Kepausan terhadap Mgr. Lefebrve berserta beberapa imam yang ditahbiskan menjadi Uskup tanpa persetujuan Paus, dan perizinan bagi umat beriman yang masih mau menikmati Misa Kudus forma extraordinaria (yang lazim dirayakan sebelum Konsili Vatikan II). Paus juga mendirikan Komisi Ecclesia Dei guna memfasilitasi keinginan umat beriman akan Misa kudus forma extraordinaria. Keinginan pribadi Paus dengan menerbitkan dokumen Ecclesia Dei adalah Semoga komunitas Persaudaraan St. Pius X yang didirikan oleh Mgr. lefebrve bersatu kembali dalam pangkuan Bunda Gereja. Point ke-7 pada dokumen Ecclesia Dei: 

“As this year specially dedicated to the Blessed Virgin is now drawing to a close, I wish to exhort all to join in unceasing prayer that the Vicar of Christ, through the intercession of the Mother of the church, addresses to the Father in the very words of the Son: “That they all may be one!” “(sumber)

Baca lebih lanjut

MISA LATIN TRADISIONAL PONTIANAK

Sejak pembaharuan Liturgi Romawi yang dipormulgasikan oleh Beato Paus Paulus VI ( Selanjutnya dibaca “Forma Ordinaria/FO”), Liturgi Gereja Katolik ritus latin menjadi lebih sederhana ( dan tetap Agung) dibanding Liturgi Misa 1962 (selanjutnya dibaca “Forma Extraordinaria/FE”). Misa Forma Ordinaria menjadi lazim dirayakan di paroki – paroki Gereja, serta Misa ini mengizinkan penggunaan bahasa vernakular (bahasa lokal) di setiap doa  ( Tentu mendapatkan pengesahan dari takha suci Vatikan). Misa Forma Extraordinaria pada kala itu diizinkan untuk tetap dirayakan di daerah – daerah yang memungkinkan saja. Atas kemurahan hati Paus Sto. Yohanes Paulus II, para Uskup diminta bermurah hati kepada umat beriman yang menginginkan perayaan Misa dalam Forma Extraordinaria.

Baca lebih lanjut

SEJARAH ALTAR

Jika kita berkunjung ke Gereja kuno, kita akan mendapati sebuah altar lama (jika tidak dihancurkan) dimana “menuntut” seorang Imam mempersembahkan Misa menghadap ke timur. Mengapa menghadap ke timur?

Walau tradisi ini sudah jarang dipraktekkan pada zaman sekarang, tetapi perlu kita  ketahui juga mengapa dulu umat dan Imam merayakan Misa menghadap ke timur. TERNYATA memiliki landasan perjalanan sejarah dan  teologis!

Baca lebih lanjut

KEAGUNGAN MISA

Misa adalah Ibadat tertinggi Gereja kepada Allah yang Maha Kudus. Gereja tiada henti untuk terus mempersembahkan kurban dalam Liturgi kudus. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa Gereja bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir….. Maka Liturgi sekaligus secara mengagumkan menguatkan tenaga mereka untuk mewartakan Kristus, dan dengan demikian menunjukan Gereja kepada mereka yang diluarnya sebagai tanda yang menjulang diantara bangsa-bangsa( ). Dibawah tanda itu puter-putera Allah yang tercerai berai dihimpun menjadi satu( ), sampai terwujudlah satu kawanan dan satu gembala( ). (SC. 2)

Baca lebih lanjut

IBADAT COMPLETORIUM

Ibadat Completorium atau ibadat penutup dibuka dengan rumusan seperti yang ada di ibadat pagi. Setelah pembukaan, dilakukan pemeriksaan batin.  Dalam perayaan bersama, pemeriksaan batin dapat disusul dengan doa tobat sepeti dalam Misa, seperti doa Saya Mengaku, atau menggunakan rumusan baku lainnya. Doa tobat disusul dengan absolusi: “ Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal. Amin

Kemudian madah menyusul yang terdapat pada dalam lingkaran satu pekan.Seperti biasa, setelah mazmur diteruskan dengan pendarasan mazmur yang terdapat pada lingkaran satu pekan, begitu juga dengan bacaan singkat. Kemudian lagu singkat sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

IBADAT SIANG ( TERTIA, SEXTIA, DAN NONA)

Ibadat siang dibuka dengan pembukaan sesuai rumusan yang ada di ibadat pagi.Seperti biasanya sesudah pembukaan dilanjutkan dengan madah yang diambil dari lingkaran satu pekan.Sesudah madah, diadakan Mazmur yang ada di lingkaran empat pekan atau rumus tambahan.Yang melakukan satu kali ibadat siang (Ibadat siang ada tiga kali), mengambil mazmur dari lingkaran empat pekan.Kalau diadakan lebih dari satu kali ibadat siang, maka untuk yang satu menggunakan atau diambil dari lingkaran empat pekan, dan yang satunya dari rumus tambahan.Pada hari raya, mazmur selalu diambil dari rumus tambahan, tetapi jika hari raya jatuh pada hari minggu, diambil dari Mazmur hari minggu dalam pekan pertama.Kalau untuk ibadat pagi disediakan antifona khsus, dapat dipakai untuk ibadat siang juga.

Baca lebih lanjut

IBADAT LAUDES

Ibadat Laudes atau disebut ibadat pagi dilakukan saat bangun tidur atau jam pagi. Ibadat pagi dibuka dengan sebagai berikut:

Pemimpin:       Ya Allah, bersegeralah menolong aku

Umat:              Tuhan perhatikanlah hamba-Mu

Lalu dilanjutkan dengan doa Kemuliaan dan diakhiri dengan pengucapan Alleluia. Pada masa prapaska, Alleluia tidak diucapkan.

Baca lebih lanjut

IBADAT MATUTINUM

Ibadat Matutinum atau Ibadat Bacaan dapat dilakukan pada jam berapapun. Ibadat Bacaan terdapat bacaan Sabda untuk tahun I dan tahun II.Cara untuk membedakan suatu tahun menggunakan bacaan tahun I atau II adalah dengan melihat apakah tahun tersebut ganjil atau genap.Jika ganjil maka tahun I, genap tahun II.Pergantian bacaan singkat tahun I atau II terhitung dari mulainya masa Adven.Jika tahun ini genap, maka ketika memasuki masa adven kita langsung menggunakan bacaan singkat tahun I, begitu juga sebaliknya.
Baca lebih lanjut