PEMBAKARAN JENAZAH [KREMASI]

Fratres,

Kematian merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Kematian pun tidak dapat diketahui kapan, dimana, bagaimana terjadinya.

Di zaman modern ini, tidak dapat dipungkiri bahwa daerah – daerah tertentu dipenuhi dengan bangunan rumah yang menyebabkan lahan kosong berkurang. kalaupun ada, biaya penyewaan atau pembelian lahan sudah lumayan mahal.

Ritual peristirahatan terakhir pun di lakukan agar jiwa yang bersangkutan dapat menikmati kebahagiaan surgawi. Lalu bagaimana pandangan Gereja Katolik mengenai “PEMBAKARAN JENAZAH [KREMASI]”. Mari kita lihat apa yang dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik @2300 – 2301:

“Jenazah orang yang telah mati harus diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih dalam iman dan dalam harapan akan kebangkitan. Pemakaman orang mati adalah satu pekerjaan kerahiman terhadap badanBdk. Tob 1:16-18.; itu menghormati anak-anak Allah sebagai kenisah Roh Kudus.”

“Otopsi jenazah demi pemeriksaan pengadilan atau demi penyelidikan ilmiah diperbolehkan secara moral. Penyerahan organ tubuh secara cuma-cuma sesudah kematian, diperbolehkan dan dapat sangat berjasa. Gereja mengizinkan pembakaran mayat, sejauh ini tidak ingin menyangkal kepercayaan akan kebangkitan badan Bdk. XIC, can. 1176,?3.”

Kitab Hukum Kanonik:

1176 $3. Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani.

Gereja Katolik yang kudus mengizinkan Kremasi atau pembakan jenazah sejauh TIDAK menyangkal kepercayaan akan kebangkitan badan, NAMUN tetap menganjurkan pemakaman jenazah dipertahankan. Gereja sangat menghargai dan menaruh penghormatan tubuh manusia, karena mengingat akan iman kepercayaan Kristen, Kebangkitan Badan. Oleh karena itu, penaburan abu jenazah dilaut, di udara, atau dimanapun TIDAK diperkenankan. Abu jenazah tetap harus dimakamkan atau di rumah abu.

NORMA LITURGIS TENTANG KREMASI
Kongregasi Penyembahan Ilahi

KETENTUAN PEMAKAMAN KRISTEN, Appendiks 2, “Kremasi”

417. Abu jenazah yang dikremasi harus diperlakukan dengan penghormatan yang sama yang diberikan kepada tubuh manusia asalnya. Ini termasuk penggunaan bejana yang layak untuk menyimpan abu tersebut, cara bejana abu itu dibawa, dan perlakuan dan perhatian kepada penempatan yang layak dan transportasinya dan perletakan akhir bejana abu tersebut. Abu jenazah yang dikremasi harus dikubur di makam atau disemayamkan di rumah abu milik keluarga (mausoleum) atau kolumbarium. Praktek menyebarkan abu kremasi di laut, dari udara, atau di atas tanah, atau menyimpan abu kremasi di rumah saudara atau teman dari orang yang meninggal, bukan merupakan sikap penghormatan yang disyaratkan oleh Gereja. Jika memungkinkan, harus dipilih cara-cara yang layak untuk mengabadikan kenangan akan orang yang meninggal itu dengan cara yang terhormat, seperti dibuatnya plakat atau batu yang mencantumkan nama dari orang yang meninggal.”

Walau jiwanya telah menghadap sang Hakim, Yesus Kristus. Namun tubuhnya tetap harus diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih.

Referensi:

Imankatolik.or.id

Katolisitas.org

4 thoughts on “PEMBAKARAN JENAZAH [KREMASI]

  1. Bagaiman jika penyebaran abu di laut sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyangkal iman Kristiani terutama penghormatan terhadap tubuh manusia, namun dilakukan dengan tetap percaya kepada kebangkitan badan dan percaya seperti Musa membebaskan bangsa Israel melalui laut merah, maka lautpun tidak menjadi halangan bagi Allah untuk menerima roh yg meninggal dalam pangkuannya? Sama sekali bukan didasarkan pada tradisi Chinese atau apapun. Tks

    Suka

    • Terima kasih atas pertanyaannya sdr. Andy

      Gereja Katolik yang tidak dapat salah mengajar dalam hal Iman dan Moral menetapkan bahwa penaburan abu di laut bukanlah bentuk penghargaan atas tubuh manusia.
      Gereja justru menganjurkan pemakaman jenazah yang lazim dilakukan.
      namun tidak melarang kremasi, tetapi melarang penebaran abu.

      Abu dapat disimpan dalam rumah abu keluarga.

      Suka

  2. Tapi masih sangat sedikit umat Katolik yg mau menitipkan abu jenazah di Columbarium…kebanyakan umat Katolik melarung abu jenazah di laut atau sungai. Melarung abu jenazah di laut adalah bentuk penghormatan juga. Tulisan di atas hanyalah anjuran dari salah satu keuskapan di America. Tapi bukan hal yg mengikat. Orang Katolik di Australia juga banyak yg menabur abu jenazah di laut. Tuhan tetap bisa membankitkannya di akhir jaman. Saya sudah berkonsultasi dengan pastor mengenai hal ini.

    Suka

    • Sdr Andrew, Kongregasi Penyembahan Ilahi bukan atas anjuran dari Amerika Serikat
      Kitab Hukum Kanonik, dan pengeluaran dokumen dari Kongregasi penyembahan Ilahi dari Tahta Suci yang mengikat seluruh umat beriman.

      Di Indonesia juga banyak yang menaburkan abunya ke sungai, udara, dan tempat terbuka lainnya. Tetapi tetap kebiasaan yang keliru tidak dapat dijadikan pembenaran.

      Memang Tuhan dapat membangkitkan di akhir zaman, tetapi ini bukan inti persoalannya, melainkan sikap hormat terhadap tubuh manusia yang mulia walaupun sudah meninggal harus diperlakukan dengan hormat juga.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s