Sia – siakah Rutin Menerima Sakramen Tobat?

Fratres,

Tidak dapat dipungkiri banyak umat beriman memiliki pemikiran bahwa menerima sakramen tobat atau pengakuan dosa berkali – kali merupakan sebuah kesia-siaan. Melakukan dosa lalu menyesalinya serta menerima Sakramen Tobat bagaikan sebuah roda yang terus berputar dalam kehidupan umat beriman. Maksudnya setelah bertobat jatuh dalam dosa lagi, bahkan dalam dosa yang sama. Tampak  ‘keputusasaan’ inilah yang menjadikan umat beriman enggan mengakukan dosa lagi. Pemikiran hal tersebut timbul mungkin dikarenakan merasa sedang mencobai kerahiman Allah. Pemikiran ini lambat laun tentu akan mengarah kepada penyangkalan Allah yang maha rahim.  Apakah benar sedang mencobai Allah?

Dalam surat Rasul Yohanes yang pertama (1 Yoh 1:9): “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Justru dengan mengaku dosa kita menyatakan bahwa Allah adalah yang setia dan adil. Allah setia kepada manusia, kesetiaan ini tidak dapat Ia sangkal (2 Tim 2:13). Menunjukkan bahwa sedalam apapun ‘pengkhianatan’ yang dilakukan oleh umatNya, Ia senantiasa menunggu penyesalan dan pertobatan bagaikan anak yang hilang (Mat 18:14). Kesetiaan Allah serta kerahimanNya ditunjukkan dengan perintah kepada umat beriman untuk mengampuni sesama tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18:22). Petrus yang menyangkalNya sampai tiga kali (Markus 14:72) tetap Ia ampuni bahkan diberi wewenang untuk menggembalakan dombaNya (Yoh 21:17). Totalitas Allah yang Maha mengampuni inilah menjadi dasar  kita untuk berusaha hidup dalam kekudusan. Kekudusan ini diperoleh dengan jujur pada diri sendiri sebagai manusia yang berdosa serta mengakuinya dengan penuh penyesalan serta berpengharapan bahwa Allah yang memberikan rahmat pengudusan akan menguduskan kita. Dengan demikian, Allah senantiasa rahim kepada umatNya, dan tiada henti mengampuni yang bahkan jatuh bangun berkali – kali dalam menjalani hidup ini. Paus Emeritus Benediktus XVI berkata: “Sangat membantu bagi kita untuk mengaku dosa dengan teratur. Benar bahwa dosa kita selalu sama; tapi kita membersihkan rumah kita, ruangan kita, paling tidak sekali seminggu bahkan bila kotorannya selalu sama, dengan tujuan untuk hidup dalam kebersihan, untuk memulai kembali. Bila kita melakukan hal yang sebaliknya,  kotoran mungkin tidak dilihat, tapi kotoran tersebut akan bertambah.” Pemikiran “mencobai Allah” perlu disingkirkan. Berfikir (& diterapkan) secara sadar bahwa Allah tidak mungkin memberikan beribu kali kesempatan pengampunan kepada manusia untuk bertobat merupakan dosa menghujat Roh Kudus.

Baca juga: Sudah berapa lama tidak mengaku dosa?

Dengan mengakui diri kita berdosa dan menyesalinya; sungguh memberikan kedamaian dan pengampunan, ketenangan suara hati, penghiburan rohani, dan bertambahnya kekuatan untuk berjuang dalam kehidupan Kristen (KKGK. Pert. 310). Kita juga diperdamaikan dengan Allah dan Gereja. Teringat akan homili oleh seorang imam Dominikan pada hari Minggu mengenai pengharapan pada Minggu Adven II “Anda mengakui dosa berarti jujur bahwa anda sangat membutuhkan Tuhan, Tuhan mengerti akan diri kita  bagaikan keramik yang terbuat dari tanah liat, disenggol jatuh dan pecah“. Pada intinya adalah bagaimana kita mengakhiri hidup ini dengan baik dan benar, mempersiapkan diri dengan terus berusaha hidup kudus.

5 thoughts on “Sia – siakah Rutin Menerima Sakramen Tobat?

  1. Apa bener2 diampuni dosa kita kenapa kita mengaku dos kepada sesama manusia.dan para iman mengatakaan dosa kita diampuni setelah kita mengaku dosa aapa ada wewenang manusia biasa mengampuni dosa.

    Suka

    • Sdr. Antonius. Eri

      Terima kasih atas pertanyaannya

      1. Apakah benar diampuni dosa kita?
      +++

      Jikalau mengakui dosa kita dihadapan imam dan dengan penuh penyesalan, maka dosa kita diampuni.

      2. Kenapa kita mengaku dosa kepada kepada sesama manusia (imam)?
      +++

      Kristus sendirilah yang memberikan wewenang atau kuasa mengampuni tersebut kepada para Rasul dan diteruskan hingga sekarang
      “Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23)
      Gereja juga memiliki kuasa untuk mengikat dan melepas (Mat. 16:19). maka dalam hal dosa pun juga dapat dilepas.

      terima kasih.

      Suka

  2. Ping-balik: MENGAPA MENGAKU DOSA KEPADA IMAM? | Spe Salvi Facti Sumus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s